Kesehatan
5 Cara Mengatasi Kebotakan dan Kerontokan Rambut pada Pria dan Wanita
Penyebab kebotakan wanita tidak jelas. Namun, rambut rontok paling sering terjadi pada wanita setelah menopause.
1. Minoxidil
Penggunaan Minoxidil untuk kebotakan pola ditemukan secara tidak sengaja.
Minoxidil banyak digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi, tetapi para peneliti menemukan bahwa salah satu efek samping obat adalah pertumbuhan rambut di daerah yang tidak terduga.
Losion minoxidil diaplikasikan pada kulit kepala dan dapat bekerja dengan meningkatkan aliran darah, dan memberi makan ke folikel rambut.
American Hair Loss Association mengatakan bahwa sebagian besar ahli sepakat bahwa Minoxidil adalah "obat yang relatif sedikit efektif dalam memerangi rambut rontok."
Perawatan ini tidak memiliki efek pada proses hormon rambut rontok, dan manfaatnya bersifat sementara. Rambut rontok berlanjut jika penggunaannya dihentikan.
2. Finasteride
Efek samping Finasteride terhadap pertumbuhan rambut ditemukan pada saat pengembangan obat untuk mengobati kelenjar prostat yang membesar.
Finasteride menghambat tipe II 5-alpha-reductase, yang merupakan enzim yang bertanggung jawab untuk mengubah testosteron menjadi androgen DHT yang lebih kuat.
Tingkat DHT dilaporkan berkurang hingga 60 persen ketika obat ini dikonsumsi, yang mencegah folikel yang rentan terkena hormon dan mengembalikan ukuran normalnya.
Perawatan ini tidak bekerja pada wanita, dan efeknya hanya akan tetap selama menggunakan Finasteride.
• Kebotakan Bisa Jadi Gejala Penyakit Lou Gehrig
3. Dutasteride
Dutasteride (Avodart) digunakan untuk mengobati pembesaran prostat. Sementara FDA belum menyetujui obat untuk mengobati kerontokan rambut.
Dokter kadang-kadang meresepkan dutasteride off-label untuk kebotakan pola pria.
Dutasteride bekerja mirip dengan finasteride, tetapi mungkin lebih efektif. Seperti finasteride, dutasteride menghambat aktivitas reduktase 5-alpha tipe II.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/kebotakan07.jpg)