Rahasia Sop Iga Sapi Khas Grobogan di Warung Paryati Layak untuk Dinikmati Pelancong dan Warga
Olahan rendaman iga sapi sebagai senjatanya ini merupakan warisan leluhur yang telah menjadi ikon Kabupaten Grobogan
Banyaknya pelanggan yang mau menikmati kuliner khas Grobogan dinamai Becek ini memang dikenal karena kelezatan masakannya.
Namanya becek, tapi masakannya digemari oleh banyak kalangan.
Hidangan kuliner dengan nama " becek" sudah tak asing lagi terdengar oleh telinga masyarakat Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Masakan berkuah asam yang mengandalkan olahan rendaman iga sapi sebagai senjatanya ini merupakan warisan leluhur yang telah menjadi ikon Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Dahulu kala, warga pedesaan di Kabupaten Grobogan meramu becek untuk disajikan sebagai hidangan khas saat ada hajatan rakyat saja.
Namun, seiring perkembangan dari masa ke masa, makanan berkuah segar yang begitu sedap menggoyang lidah itu mulai dikomersialkan.
Saat ini, cukup mudah menemukan sejumlah rumah makan yang menjajakan becek di wilayah Kabupaten Grobogan.
Kata dasar "becek" sendiri diartikan selayaknya jalanan yang berair dan berlumpur.
Seperti halnya becek yang disajikan dengan kuah keruh yang membanjiri mangkuk.
"Entah kapan nama becek itu mulai populer. Becek mulai dijual di warung-warung sekitar tahun 2000-an," kata Sekda Kabupaten Grobogan, Moh Sumarsono.
Para pelaku usaha kuliner yang menggeluti santapan becek pada umumnya masih berupaya memertahankan keaslian ramuan becek.
Secara turun temurun resep nenek moyang itu terus dilestarikan.
Bumbu-bumbu becek lazimnya sama, di antaranya bawang merah, bawang putih, kemiri, ketumbar, dan cabai.
Dikombinasikan dengan daun kedondong dan daun dayakan untuk menciptakan rasa asam pada kuah.
Setelah fasih mempelajari seluk beluk becek dari berbagai macam referensi, Yati pun akhirnya memutuskan membuka bisnis kuliner khusus becek iga sapi di depan rumahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/dalam-sehari-di-warung-kecilnya-itu.jpg)