Klinik Kopi: Sekali Seduh, Kita Bersaudara!
Jika ingat adegan Rangga sedang mengajak Cinta ngopi di film 'Ada Apa dengan Cinta 2', lokasi syutingnya ada di Klinik Kopi, Sleman, DI Yogyakarta.
Penulis: Irwan Wahyu Kintoko | Editor: Irwan Wahyu Kintoko
Hari menjelang magrib saat Range Rover hitam milik promotor kondang Anas Syahrul Alimi yang membawa saya bersama Abdullah 'Arey' Arifin tiba didepan Klinik Kopi, akhir Maret 2019.
Dari kilometer 5, Anas Syahrul Alimi yang kini sedang bersiap bersama tim Rajawali Indonesia mendatangkan musisi dunia asal Yunani, Yanni, untuk dipanggungkan didepan Candi Prambanan itu mengantar kami ke Klinik Kopi di Jalan Kaliurang Km 7.
Petang hari itu, Anas tidak ikut bersama saya dan Arey. Ada janji yang harus ditepati Anas, katanya. Sejak beberapa bulan lalu, setiap mampir Sleman, DI Yogyakarta, Arey selalu ingin mendatangi Klinik Kopi.
Klinik Kopi memang nylempit. Tidak persis berada di pinggiran Jalan Kaliurang yang kini mulai macet itu. Patokannya jika ingin ngopi disana adalah kantor PLN Banteng. Jalan masuk ke Klinik Kopi persis disebelah PLN.
Sesampainya di Klinik Kopi, beberapa orang sedang terlihat asyik berbincang seru, ngalor-ngidul. Tentu, mereka sambil nyruput kopi racikan Pepeng, pemilik Klinik Kopi. Pepeng dan Klinik Kopi mulai populer.
"Halo mas, piye kabare. Antrian panjenengan nomer pitu nggih (antrianmu nomor tujuh ya). Sabar ya," kata Pepeng sembari menyerahkan nomor antrian bernomor 7 ke Arey tersenyum menyapa ramah kami yang baru saja datang.
Ketika itu Pepeng dan Sigit, asistennya, sedang berbincang dengan pasien nomor 5. Pasien, begitulah sebutan Pepeng untuk para penikmat kopi langganan di kedainya yang mungil namun rimbun pepohonan itu.
Saat pecinta kopi disebutnya sebagai pasien, Pepeng menyebut dirinya sebagai 'dokter'. Ya, 'dokter kopi'. Pepeng dan pelanggan kopinya, termasuk Arey yang rela datang jauh dari Jakarta ini, pecinta seduhan kopi.
Maka, Pepeng memberi nama kedai kopinya itu dengan nama Klinik Kopi. Pengunjung tidak hanya sekedar memesan dan minum kopi saja. Namun ada interaksi dan obrolan yang dilakukan Pepeng ke semua 'pasiennya' itu.
Saya dan Arey, begitu juga para pasien lainnya, harus menunggu giliran 'konsultasi' dengan 'pak dokter' Pepeng. Kadang konsultasi Pepeng dan para pasiennya itu bisa berjalan lama, kadang pula singkat. Tidak tentu.
Setelah menunggu 20 menitan, giliran saya dan Arey bertemu Pepeng. Begitu kembali menyapa hangat dan kini saling berhadapan, Pepeng segera menawari biji kopi yang akan kami minum.
Ada enam jenis biji kopi yang diletakkan di enam toples kaca berukuran sama. Semua biji kopi siap di roasting di mesin penggiling. Semua boleh disruput. "Asal tidak bersamaan agar kopinya terasa," kata Pepeng.
Sebagai pencinta kopi newbie, saya memilih nyruput kopi sesuai saran Pepeng. "Kopi Padusi ini cocok buat njenengan yang nggak suka rasa kopinya terlalu kuat (pahit)," kata Pepeng seraya menjelaskan, biji kopi Padusi berasal dari Solok, Sumatera Barat.
Sementara Arey yang memang gemar nyruput kopi itu memilih mencicipi kopi Aenak Tolu yang biji kopinya diambil Pepeng langsung dari para petani kopi di perbukitan Danau Toba, Sumatera Utara.
Sambil berbincang ngalor-ngidul, Pepeng mulai menggiling biji-biji kopi pesanan kami. Apapun diobrolkan. Tidak harus kopi. Seperti saat Pepeng mendadak bertemu Ridho Hafiedz, musisi dan pemain gitar Band Slank.
• VIDEO: Momen Kaesang Pakai Baju Bergambar Prabowo Saat Luncurkan Kedai Kopi Miliknya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/pepeng-dan-klinik-kopi-p.jpg)