Rabu, 22 April 2026

Kesehatan

Mari Mengenal Tiga Jenis Glaukoma 'Si Perampas Penglihatan'

Glaukoma merupakan penyakit mata akibat kerusakan pada saraf optik menyebabkan gangguan pada lapang pandangan yang khas.

Penulis: |
East St Kilda Eye Clinic
Ilustrasi pemeriksaan kesehatan mata 

Berbeda dengan katarak yang penglihatan lama kelamaan menjadi  kabur atau buram, lalu gelap.

Katarak disebabkan karena lensa mata yang keruh. Ketika dilakukan operasi,  lapisan lensa mata yang keruh dikelupas, dan mata kembali bisa melihat dengan  jelas seperti semula.

 Sementara glaukoma, pengobatan tidak akan pernah mengembalikan mata menjadi normal.

Pengobatan yang dilakukan pada pasien glaukoma yakni hanya mencegah agar penglihatan tidak semakin hilang.

Mata tidak bisa dikembalikan normal karena saraf optiknya sudah rusak. Semakin dini diketahui dan diobati, gangguan penglihatan tidak semakin parah.

Orang Tua dan Guru Diminta Jaga Kesehatan Mata Anak

 Berikut ada tiga jenis glaukoma:

1.      Glaukoma  Primer Sudut Terbuka

Glaukoma primer, sudut bilik  mata depan terbuka lebar tetapi terdapat hambatan pada sistem pengeluaran cairan bola mata sehingga tekanan bola mata meningkat.

Tipe ini sering disebut sebagai pencuri penglihatan karena sulit dideteksi dini. Alasannya, glaukoma primer  seringkali tidak bergejala kecuali pada tahap lanjut.

2.      Glaukoma Primer Sudut Tertutup

Glaukoma primer sudut tertutup, hambatan aliran pengeluaran cairan bola mata terjadi  karena sempitnya sudut bilik mata depan.

Kondisi itu dapat berisiko serangan akut glaukoma karena terjadi peningkatan mendadak tekanan  bola mata akibat sudut bilik mata depan yang sempit menjadi  tertutup secara mendadak.

Pada kasus ini, pasien mengeluhkan mata nyeri, buram, dan merah. Bahkan rasa nyeri pada mata dapat menyebabkan rasa mual disertai muntah-muntah.

Asupan Gizi Tidak Sesuai Bisa Menyebabkan Orang Mengalami Katarak

3.      Glaukoma Kongenital Primer

Glaukoma jenis ini terjadi  sejak anak dilahirkan sampai usia tiga tahun. Kondisi ini sangat jarang terjadi. Perbandingannya 1: 10.000 anak.

Sumber: WartaKota
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved