Warga Merasa Senang Bisa Jajal MRT Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia
Ratusan ribu warga ibu kota rela berjejal untuk mencoba sensasi kereta cepat itu.
Pasca diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo bersama Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan pada Minggu (24/3/2019) lalu, Moda Raya Terpadu (MRT) menjadi wahana baru bagi warga Ibu Kota.
Ratusan ribu warga ibu kota rela berjejal untuk mencoba sensasi kereta cepat itu.
Salah satunya adalah Teddy Yulianto, Calon Legislatif DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PPP Daerah Pilihan (Dapil) 7 DKI Jakarta.
Pria yang tinggal di kawasan Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan itu mengaku antusias, saat menumpang MRT pada Jumat (28/3/2019) siang.
Dalam kesempatan tersebut, dirinya melihat ramainya warga memadati MRT.
Bahkan, bukan hanya warga yang tinggal di selatan Ibu Kota, beberapa penumpang MRT yang berpapasan dengannya diketahui berasal dari wilayah Serang, Banten atau Bogor, Jawa Barat.
Kehadiran MRT Fase 1 rute Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia (HI), katanya, telah membuktikan infrastruktur yang direncanakan sejak era BJ Habibie kala menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 1995 silam itu diidamkan masyarakat.
Sehingga, menurutnya, pembangunan infrastruktur serupa harus terus dilanjutkan.
"Walau mereka bukan warga Jakarta tapi ikut bangga. Saya sendiri sudah tahu MRT bakal dibangun waktu saya kecil, tapi baru terealisasi 29 tahun kemudian. Wacana menghadirkan MRT ini memang sudah lama. Tapi siapa yang mewujudkannya? yaitu pemerintah yang mau bekerja untuk kepentingan rakyatnya, tidak hanya wacana saja," ucap Teddy ditemui di Balaikota pada Jumat (29/3/2019).
Lewat hadirnya MRT serta Light Rail Transit (LRT) Kelapa Gading-Velodrome, diyakininya transportasi Ibu Kota akan semakin modern. Perilaku masyarakat untuk beralih menggunakan transportasi umum pun diyakininya akan berubah.
"Kalau sudah nyaman dan terjangkau pasti akan beralih, daripada macet-macetan," imbuhnya.
Dia menyebutkan, dengan menggunakan MRT, perjalanan dari rumahnya di kawasan Lebak Bulus, Jaksel, menuju Blok M hanya menghabiskan waktu 10 menit saja.
"Sudah nyaman, cepat sampai juga dan selalu ada dengan rentang waktu 10 menit. Kalau naik kendaraan lainnya bisa menghabiskan waktu lebih dari satu jam gara-gara macet," ungkapnya.
Menyinggung soal tarif MRT yang masih dalam perdebatan, Teddy berpendapat tarif yang sudah ditetapkan yakni minimal sebesar Rp 3.000 dan maksimal Rp 14.000 masih sangat wajar. Walau begitu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus kembali mengkaji besaran kemampuan warga Jakarta.
"Kalau tarifnya murah pasti akan menarik masyarakat untuk naik MRT. Dengan begitu kemacetan di Jakarta akan terurai," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/luhut-binsar-panjaitan-pada-jumat.jpg)