Kemarahan dan Ancaman Soekarno di Gedung Putih Amerika Serikat, Hingga Petugas Protokoler Minta Maaf
Begini kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih Amerika Serikat, hingga Petugas Protokoler AS minta maaf ke Soekarno di Gedung Putih.
Begini kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih Amerika Serikat, hingga Petugas Protokoler AS minta maaf ke Soekarno di Gedung Putih.
Diketahui, kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih Amerika Serikat, membuat Petugas Protokoler AS minta maaf ke Soekarno.
Puncak kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih, terjadi saat mendapatkan undangan khusus untuk berkesempatan berkunjung ke Gedung Putih.
Soal penyebab Soekarno marah dan ancam Gedung Putih, bukanlah hal sepele namun kemarahan dan ancaman Soekarno di Gedung Putih terjadi saat menunggu Presiden Amerika Serikat Dwight David Eisenhower.
• Lowongan Kerja BUMN 2019, Batas Waktu Pendaftaran Rekrut Bersama BUMN Diperpanjang 24 Maret 2019
• Rocky Gerung Singgung Tol Langit Maruf Amin saat Debat Cawapres: Singkatannya Itu Tololnya Selangit
• Ditunjuk Jadi Plt Ketua Umum PSSI, Gusti Randa: Ini Penugasan Biasa dengan Agenda Khusus
WartaKotaLive melansir TribunLampung, Presiden pertama RI Soekarno pernah mengancam pihak Gedung Putih Amerika Serikat saat kunjungannya ke negeri paman sam tersebut.
Hal menarik untuk menelusuri, kisah ketika Soekarno diundang Presiden Dwight David Eisenhower ke Amerika Serikat.
Para petinggi AS menilai Soekarno memiliki peran besar terhadap Indonesia dan kawasan sekitarnya.
Mengundang Soekarno merupakan cara AS untuk memengaruhinya.
Perjudian AS
Pada konflik Perang Dingin dengan Uni Soviet, Amerika Serikat menilai membutuhkan kubu yang bisa memperkuat posisinya.
Berbagai negara sudah menetapkan posisinya untuk netral, termasuk Indonesia.
Dilansir dari buku Indonesia Melawan Amerika: Konflik Perang Dingin 1953-1963 (2008), karya Baskara T Wardaya situasi politik di Indonesia pada 1955 membuat AS pening.
Sebab, Indonesia berada pada dua kubu yang terdiri dari Sukarno, PNI dan PKI di satu sisi, serta Muhamad Hatta, Masyumi, dan Angkatan Darat di sisi lain.
Indonesia dinilai cenderung kepada Uni Soviet. Ini menjadi pertimbangan tersendiri bagi AS untuk bisa memengaruhi pemikiran Soekarno.
Wakil Presiden AS Richard Nixon sempat beradu argumen dengan Menteri Luar Negeri AS John Foster Dulles terkait sistem perpolitikan Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/presiden-ri-soekarno-dan-presiden-amerika-serikat-dwight-david-eisenhower.jpg)