Kamis, 23 April 2026

Makna Dibalik Hari Raya Nyepi

Di saat Hari Nyepi, selama 24 jam penuh, umat Hindu hidup dalam diam, hening, dan gelap.Ada apa saja makna Hari Raya Nyepi itu?

Warta Kota/Joko Supriyanto
Umat Hindu dari Pura Wira Satya Bhuana, Petojo, Jakarta Pusat, mengarak ogoh-ogoh, Rabu (6/3/2019). Pawai ogoh-ogoh ini sebagai bentuk pengusiran aura jahat sebelum melakukan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada Kamis (7/3/2019). 

Selain pecalang, tidak ada umat lain yang dapat menyaksikan secara langsung lengang dan gelapnya Bali.

Dengan berpakaian adat, pecalang yang ditunjuk oleh warga desa adat memang diberi tugas menjaga keamanan setiap sudut desa.

Mengawasi dan "menghalau masuk" warga atau orang asing yang kedapatan melanggar ketentuan adat, tidak boleh keluar dari tempat tinggal.

Perayaan Nyepi di Bali: Dilarang Bikin Ogoh Ogoh Mirip Paslon Pilpres

Nyaris tanpa gerak dan suara

Hari yang dirayakan sebagai hari raya Nyepi itu merupakan hari pertama alias awal tahun baru Saka 1 Waisakha.

Hari raya ini menjadi unik, karena tahun baru ini tidak dirayakan di India, tempat lahirnya agama ini, atau di Nepal, satu-satunya negara Hindu di dunia.

Namun tidak berarti perayaan Nyepi melanggar akidah, karena pelaksanaan ajaran agama Hindu yang disesuaikan dengan kekayaan tradisi setempat malah dianjurkan.

Nyepi membawa misi menjadikan alam semesta bersih, serasi, selaras, dan seimbang bagi kesejahteraan umat manusia.

Di tengah keheningan alam itu, seluruh umat Hindu mengurung diri di rumah atau di tempat-tempat suci tanpa melakukan apa-apa yang berbau duniawi.

Yang mereka lakukan semata-mata hanyalah menyepi, menyendiri, merenung tentang alam semesta tempat hidupnya, tentang hubungan antarmanusia, tentang hubungannya dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan).

Ogoh-ogoh Diarak untuk Mengusir Aura Jahat Sebelum Memeringati Hari Raya Nyepi

Mereka seakan-akan mementaskan "teater" mahadahsyat.

Selama 24 jam penuh manusia diajak menikmati alam dalam suasana hening tanpa suara, tanpa gerak, dan tanpa cahaya.

Manusia diajak untuk berada dalam kehampaan, mendengar keheningan, serta menatap kegelapan dalam suasana nir, suasana "tanpa".

Seluruh umat Hindu juga memanfaatkan hari itu untuk menyucikan diri dari segala kotoran duniawi.

Itu ditempuh dengan melakukan tapa (mengekang indera), brata (taat pada janji melaksanakan yoga), yoga (menyatukan diri dengan Tuhan), dan semadhi (memusatkan pikiran untuk mencapai kebahagiaan sejati).

Sumber: Intisari
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved