Kementerian

Lakukan Pengerukan Ilegal, KSOP Gresik Tangkap Dua Kapal Tak Berizin

Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub melalui KSOP Kelas II Gresik mengamankan dua unit kapal yang melakukukan pengerukan ilegal.

Istimewa
Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Gresik, mengamankan dua unit kapal yang melakukan kegiatan pengerukan ilegal di Perairan Gresik Utara, Rabu (27/2/2019). 

Dalam pemeriksaan oleh KSOP Gresik, ditemukan 100.000 meter kubik pasir di kapal TB Galileo yang rencananya akan mereklamasi lokasi pengeboran minyak.

DIREKTORAT Jenderal (Ditjen) Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Gresik mengamankan dua unit kapal yang melakukan kegiatan pengerukan ilegal di Perairan Gresik Utara, Rabu (27/2/2019).

Kepala KSOP Kelas II Gresik Totok Mukarto menjelaskan, petugas KSOP Gresik mengamankan dua unit kapal yang diduga belum memiliki izin untuk melakukan kegiatan pengerukan di Perairan Gresik Utara, tepatnya di Perairan Ujung Pangkah Gresik.

Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penegakan aturan sebagai penjagaan laut dan pantai

"Dua kapal tersebut adalah kapal keruk TB Galileo dengan berat GT.119 dan kapal Rig Tender Elang. Sebagai kapal pemasok logistik yang setelah diperiksa oleh petugas KSOP Gresik tidak memiliki izin pengerukan dari Ditjen Perhubungan Laut," ujar Totok, dalam siaran pers yang diterima Wartakotalive.com, Kamis (28/2/2019).

Totok menambahkan, memang sejak beberapa tahun terakhir ini, pesisir pantai Gresik Utara banyak dilakukan reklamasi. Namun semua kegiatan reklamasi harus memiliki izin.

Dalam pemeriksaan oleh KSOP Gresik, ditemukan 100.000 meter kubik pasir di kapal TB Galileo yang rencananya akan mereklamasi lokasi pengeboran minyak.

"Kapal tersebut dinahkodai oleh Dolfi dengan 12 Anak Buah Kapal (ABK) yang rencananya melakukan pengerukan pasir dasar laut dengan kedalaman 3.5 meter selama 3.5 bulan," tutur Totok.

Berbahaya

Totok mengatakan bahwa aktivitas ilegal tersebut sangat membahayakan lingkungan maritim dan juga keselamatan pelayaran.

"Rencananya, hasil pengerukan di perairan Ujung Pangkah, akan ditampung di sebuah lahan yang ada di bibir pantai, yang lokasinya tak jauh dari lokasi kedua kapal," kata Totok.

Adapun hingga kini, kedua kapal terpaksa diamankan sementara dan tidak dizinkan melakukan aktivitas apapun, hingga seluruh perizinannya telah lengkap.

"Prinsip kami adalah penegakan aturan agar tertib dan kepatuhan bagi pengguna jasa. Bila terus melanggar akan diproses secara hukum pidana pelayaran," tandas Totok.

Penulis: Mohamad Yusuf
Editor: Fred Mahatma TIS
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved