Demam Berdarah Dengue
Alifa Sofiani Terserang Penyakit Demam Berdarah Dengue Stadium Tinggi
Penderita demam berdarah Dengue (DBD), Alifa Sofiani divonis sudah dalam kategori stadium tinggi sehingga jiwanya sulit diselamatkan.
Penulis: Junianto Hamonangan |
WARTA KOTA, CENGKARENG --- Alifa Sofiani (4) meninggal dunia setelah terserang penyakit Demam Berdarah Dengeu (DBD), Jumat (8/2/2019).
Penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu sudah menyerang Alifa dalam kategori stadium tinggi.
Ibunda Alifa, Marsini (47), mengatakan, ketika menjalani perawatan di RS Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat, putrinya didiagnosa menderita penyakit DBD yang sudah parah.
“Katanya DBD level tinggi,” ujar Marsini di rumahnya di Jalan Pulo Nangka RT 008/RW 02, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (9/2/2019).
Ditambah lagi, dokter yang menangani juga mendiagnosa adanya virus lain. Namun, ketika itu dokter tidak menjelaskan virus lain yang menyerang putri bungsu dari tiga bersaudara itu.
“Pertama divonis DBD, terus dia bilang ada virus ganas juga tapi nggak ngasih tahu seperti apa. Ada cairan juga di paru-parunya, mungkin dari rontgen tapi belum jelas juga karena fokus DBD-nya,” katanya.
• Balita yang Meninggal di Rawa Buaya Penderita DBD Kedua di Lingkungan Rumahnya
Semasa hidupnya, Alifa tidak pernah menderita penyakit berat. Bahkan sekalipun menderita sakit, kedua orangtuanya cukup membelikan obat yang dijual di warung untuk menyembuhkan Alifa.
“Dari kecil nggak pernah sakit parah, cuma obat warung sembuh. Jadi nggak pernah sakit berat. Sebelumnya juga nggak pernah sakit DBD,” katanya.
Marsini pun tidak menyangka akan kehilangan putrinya begitu cepat.
Apalagi selama ini tidak ada yang aneh terkait keseharian Alifa sama seperti anak-anak kebanyakan lainnya.
“Keseharian biasa, aktivitasnya bagus, nggak ada keluhan, kayak anak-anak lain nggak pernah neko-neko yang penting hati-hati,” tuturnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, balita bernama Alifa Sofiani (4) meninggal dunia akibat terserang penyakit Demam Berdarah Dengeu (DBD), Jumat (8/2/2019).
Alifa sempat menjalani perawatan di RS Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat.
Ayah Alifa, Sarjono (51) mengatakan, putrinya itu menunjukkan gejala sakit mulai Selasa (5/2/2019) lalu.
Ketika itu, putri bungsunya mengalami panas meski tidak terlalu tinggi.
“Tapi pas minum obat warung, udah langsung sembuh,” katanya saat ditemui Warta Kota di rumahnya di Jalan Pulo Nangka RT 008/RW 02, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (9/2/2019).
• Ini Syarat Pasien DBD Dapat Perawatan Gratis di RSUD Meskipun Tak Punya BPJS
Namun kondisi berbeda terjadi keesokan harinya, Rabu (6/2/2019) hingga Kamis (7/2/2019). Saat itu, tubuh Alifa justru dingin.
Lantas, Sarjono membawa Alifa ke klinik 24 jam untuk diperiksa.
“Pas malamnya, jam 2 pagi, dingin banget badannya. Nggak sampai menggigil sih tapi dingin banget lah,” ucap Sarjono.
Setelah itu, Sarjono bersama sang istri, Marsini membawa Alifa RS Cinta Kasih Tzu Chi. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Alifa meninggal dunia pada sore hari.
“Masuk rumah sakit itu Jumat (8/2) subuh, sempat mendapat penanganan dulu, pemeriksaan lab juga tapi sorenya nggak tertolong lagi,” ucapnya.
Ketika itu dokter yang menangani menyatakan bahwa Alifa terserang penyakit DBD.
Penyakit DBD itu semakin dipertegas melalui hasil pemeriksaan bahwa jumlah trombosit Alifa jauh dibawah normal.
“Hasil lab terakhir, kan tiga kali pemeriksaan, jumlah trombositnya cuma 5.000,” ucap Sarjono sembari memperlihatkan kertas hasil laboratorium.
Alifa selanjutnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Wakaf Komaan Rawa Buaya di Jalan Cempaka Raya Ujung, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat.
• DBD Mulai Makan Korban, Balita di Rawa Buaya Meninggal Meski Sempat Sembuh Setelah Minum Obat Warung
Alifa Sofiani merupakan penderita DBD kedua di sekitar tempat tinggalnya di Rawa Buaya.
“Anak saya yang kedua di RT 008, jadi anak saya nyusul setelah yang pertama,” ucap ibunda Alifa, Marsini.
Namun, penderita pertama baru menunjukkan gejala. Sedangkan Alifa sudah menderita DBD dan jiwanya tidak dapat diselamatkan lagi saat dirawat di RS Cinta Kasih Tzu Chi, Cengkareng, Jakarta Barat.
“Jadi nggak lama dia (penderita DBD pertama) pulang, giliran anak saya. Dia juga lebih gede, udah sekolah, kalau anak saya kan masih kecil,” ujarnya.
Marsini mengatakan, kader juru pemantau jentik (jumantik) di Kelurahan Rawa Buaya sudah rutin melakukan tugasnya setiap pekan.
Namun, upaya para jumantik itu dianggap Marsini tidak memberikan dampak sehingga menelan korban jiwa.
“Kalau jumantik mah rutin, jalan kegiatannya. Makanya nggak tahu kenapa bisa begini. Tadi aja di sini langsung di-fogging,” kata Marsini.
Tempat tinggal Alifa dan keluarganya itu berada di permukiman padat penduduk. Menuju ke rumahnya harus keluar masuk gang setelah melalui jalan utama. Lebar gang pun tidak lebih dari satu meter.
Rumah Alifa sendiri terlihat sederhana. Lantai rumahnya dari semen dan cat dinding rumah sebagian sudah luntur terkikis waktu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/korban-dbd-meninggal.jpg)