Fahri Hamzah: Masalah Tidak Bisa Selesai dengan Modal Wajah Cengengesan
KONDISI ekonomi Indonesia yang dinilai kian terpuruk, ditanggapi tegas Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.
Penulis: Dwi Rizki |
KONDISI ekonomi Indonesia yang dinilai kian terpuruk, ditanggapi tegas Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.
Fahri Hamzah bahkan mengingatkan pemerintahan Joko Widodo bahwa masalah tidak akan terselesaikan hanya dengan modal tampang cengengesan.
"Masalah tidak bisa selesai dengan modal wajah cengengesan...kita punya masalah serius dan kita perlu orang-orang serius," tulis Fahri Hamzah lewat akuin twitter @Fahri Hamzahhamzah, Selasa (18/12/2018).
• Mpok Nur Bocorkan Rahasia Kekuatan dan Stamina Sandiaga Uno, Katanya Dibikin dengan Cinta
Ketegasan serta keseriusan memandang permasalahan bangsa, lanjutnya, ditunjukkan lewat pidato Calon Presiden (Capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto, ketika menghadiri Konferensi Nasional Relawan Prabowo-Sandiaga Uno di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (17/12/2018).
Namun, lanjutnya, pidato politik yang disampaikan Prabowo Subianto tentang negara bisa punah, kembali dipolitisasi oleh kubu Jokowi. Mereka, katanya, nyinyir dan menyebut Prabowo Subianto pesimis.
"Di masyarakat awam, belum terlalu dipahami bahwa antara Ketimpangan ekonomi dan Negara Punah ada hubungannya. Itulah sebabnya pidato @prabowo bukan membawa kajian yang serius malah dicibir. Termasuk dari yang rada bisa mikir. Kecuali kalau semua sdh #GakMikir," tulis Fahri Hamzah diakhiri tagar #NegaraBisaPunah.
• Prabowo Subianto: Kalau Kita Kalah, Negara Ini Bisa Punah
Narasi yang dibawa Prabowo Subianto tentang kesenjangan dan kepunahan negara, menurutnya merupakan narasi global. Pernyataan tersebut pun telah dikemukakan intelektual kelas dunia dalam tiga buku penting yang ditulis oleh para pakar pembangunan.
Buku pertama disebutkannya berjudul 'Capital in the 21st Century' karya Thomas Piketty, 'The Price of Inequality' karya Joseph E Stiglitz, dan 'Why Nation fail' karya Daron Acemoglu dan James Robinson. Ketiga buku tersebut, kata Fahri Hamzah, mengulas secara teoris dan empiris kesenjangan sampai pada gagalnya sebuah negara.
"Saya sendiri menulis buku untuk melacak akar kemiskinan di rakyat kita dan mengapa kita bisa disebut belum sejahtera. Studi saya dibantu beberapa staf di kordinator kesra pimpinan @DPR_RI tidak saya mencoba melakukan kritik teori tapi juga evaluasi statistik," tulis Fahri Hamzah Hamzah.
Kepunahan Negara
Walau telah menuliskan buku tentang kemiskinan, Fahri Hamzah mengaku belum membuat kajian tentang kerawanan berujung pada kepunahan negara. Akan tetapi, Fahri Hamzah mengaku telah menemukan akar ketimpangan yang cukup mengkhawatirkan.
"Memang bangsa kita punya Daya tahan. Tapi waktu bisa punya kehendak lain. Demikiankah waktu dan sejarah mengajarkan kita, imperium, kerajaan dan negara datang silih berganti, bangkit dan tumbang oleh waktu. Salah satu sebabnya, seperti yang digambarkan oleh sebagian dari 3 penulis di atas adalah soal ketimpangan ekonomi yg menganga," beber Fahri Hamzah.
Thomas Piketty adalah ekonom Prancis yang banyak sekali melakukan studi tentang ketimpangan ekonomi. Salah satu penyebab ketimpangan, katanya, hampir di semua negara tingkat pengembalian modal selalu tumbuh lebih cepat 5 sampai 7 kali lipat dari pertumbuhan ekonominya.
• Penyelesaian Kasus Penyerangan Novel Baswedan Lamban, Saut Situmorang Sampai Dibilang Kambing
Jadi, faktor modal ditegaskannya jauh lebih diuntungkan dari pada faktor produksi lainnya, seperti tenaga kerja atau upah buruh.
"Apalagi di Indonesia, upah buruh per tahun dipatok dan harus mengikuti besaran angka pertumbuhan ekonomi, tidak boleh lebih," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/fahri-hamzah-wakil-ketua-dpr.jpg)