Pengobatan Bagi Penderitan Diabetes Melitus, Insulin Generasi Baru
Terapi insulin merupakan satu keharusan bagi penderita diabetes mellitus atau DM tipe 1.
WARTA KOTA, PALMERAH--- Terapi insulin merupakan satu keharusan bagi penderita diabetes melitus atau DM tipe 1.
Pada diabetes melitus tipe 1, sel-sel B Langerhans kelenjar pankreas penderita rusak, sehingga tidak lagi dapat memproduksi insulin.
Pilihan jenis insulin selain didasarkan pada kadar gula darah juga didasarkan oleh kemampuan pasien.
Selain pengendalian gula darah, dilakukan juga pengendalian tekanan darah dan kadar kolesterol sehingga pencegahan timbulnya komplikasi kronik dapat dilakukan.
Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi lonjakan kadar gula darah dan mencegah terjadinya hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi adalah terapi insulin yang dapat membantu mencapai kadar gula darah sesuai target.
Penentuan dosis insulin memerlukan pemantauan kadar gula darah pada pasien.
Pilihan jenis insulin dapat didasarkan pada beragam faktor, di antaranya kadar gula darah pasien, biaya, ketersediaan, dan akses.
Direktur Rumah Sakit Pusat Pertamina, dr A Haris Tri Prasetyo SpPD, mengatakan, penggunaan insulin pada pasien diabetes yang telah terindikasi seperti diabetes melitus tipe 1 atau genetik, kehamilan, perencanaan operasi, gangguan fungsi ginjal ataupun keadaan lain di mana tubuh tidak dapat lagi mengimbangi kadar gula darah yang sangat tinggi; maka, penggunaan insulin tidak boleh ditunda.
"Menunda pengobatan akan menyebabkan berbagai komplikasi dan bahkan kematian," kata Haris, Selasa (13/11/2018).
Haris mengatakan, saat ini telah tersedia generasi baru basal insulin dengan profil terapi yang telah diperbaharui sehingga memiliki risiko hipoglikemia atau gula darah rendah yang lebih rendah, akurat dalam penentuan dosis, fleksibel, serta mudah digunakan sehingga pasien tak perlu khawatir saat menggunakan insulin.
Generasi baru insulin kerja panjang ini juga telah dimasukkan ke dalam pedoman praktis terapi insulin oleh PERKENI pada tahun 2015 dan diharapkan dapat menjadi harapan baru bagi penyandang diabetes atas manfaat yang dimiliki.
"Harapan kami adalah pasien diabetes dapat mencapai target pengobatan diabetes tanpa komplikasi dan dengan bahagia, serta melibatkan keluarga, pasien, hingga dokter," kata dia.
Walaupun penyakit ini tidak menular, namun DM sangat mengkhawatirkan karena berisiko menimbulkan komplikasi mulai dari kebutaan, serangan jantung, stroke, gagal ginjal, dan amputasi kaki.
Prof Dr dr Sidartawan Soegondo SpPD-KEMD, FACE, mengatakan, istilah silent killer untuk diabetes terbentuk karena setidaknya satu dari dua orang yang menyandang diabetes, tidak terdiagnosis dan tidak menyadari apabila mereka terkena diabetes. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan.
"Bahkan menurut International Diabetes Federation (IDF), angka penyandang diabetes diprediksi terus meningkat hingga 16,7 juta orang pada tahun 2045," ujar Prof Sidartawan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20150607diabetes_20150607_185228.jpg)