Kolom Trias Kuncahyono
Karena Politik
Mengapa semua itu terjadi? Jawabannya jelas: karena politik. “Politik mengalahkan rintangan apa pun yang pernah kuhadapi,” begitu kata Cicero, suatu k
GREGORIUS Agung (540-604) yang dikenal sebagai Paus dan Pujangga Gereja Latin, pernah mengatakan, Certe iniquorum omnium caput diabolus est; et hujus capitis membra sunt omnes iniqui.
Yang artinya, iblis adalah kepala segala yang jahat; dan segala sesuatu yang jahat adalah anggota-anggotanya.
Iblislah yang membawa “kegelapan” di muka Bumi ini.
Baca: Istri Korban Lion Air PK-LQP: Kamu Minta Dijemput, tapi Seharusnya Bukan di Sini
Iblis tidak bergerak sendiri dalam aksinya. Manusia dipakai sebagai instrumennya, alatnya. Mereka itu —yang tidak peduli pada manusia lain, yang menginjak-injak nilai-nilai kemanusiaan, yang membunuh orang-orang tidak bersalah, tidak berdosa, yang tidak toleran pada orang lain, yang mencari kebahagiaan di atas penderitaan orang lain, yang memperkaya diri dengan memiskinan orang lain, yang memuaskan diri dengan menyengsarakan orang lain, dan juga yang memburu kekuasaan dengan segala cara termasuk bertopeng agama demi memuaskan nafsu kuasa— ada di sekitar kita, di antara kita.
Mereka itu telah melemparkan dunia ke “akhir sejarah” dunia yang beradab. Tetapi, sejarah seperti selalu berulang, l’histoire se répète.
Karl Marx (1818-1883), pernah mengatakan, “Sejarah mengulang dirinya sendiri, pertama sebagai tragedi, kedua sebagai lelucon.”
Baca: Jokowi: Tarif MRT Rp 8 Ribu Sampai Rp 9 Ribu
Berulang kali, sejarah dunia beradab berakhir atau diakhiri dengan tragedi bukan lelucon. Seakan, apa yang pernah dikatakan oleh Cicero (106-43 SM) filsuf Romawi Kuno, historia vitae magistra et testis temporarum, sejarah itu guru kehidupan dan saksi zaman, tidak pernah terjadi.
Orang tidak pernah mau belajar dari sejarah. Tragedi umat manusia dan kemanusiaannya, berulang kali terjadi. Apa yang terjadi di Suriah hingga saat ini, misalnya, di mana orang dengan mudah membunuh orang lain, atau membiarkan orang mati.
Bank Dunia, 10 Juli 2017 memperkirakan antara 400.000 hingga 470.000 orang; dan lebih dari separuh penduduk Suriah, tercerai berai.
Sebelum perang jumlah penduduk Suriah sekitar 22,5 juta jiwa. Karena tidak ada makanan dan minuman, karena sumber penghidupannya dihancurkan, atau malahan menjadi korban perang secara langsung, atau bahkan dibantai, banyak yang tewas.
Hal seperti itu mengulang yang dilakukan oleh Khmer Rouge (Khmer Merah) di Kamboja, 1975-1979. Selama kurun waktu itu, mereka membunuh 2,5 juta – 3 juta orang.
Adolf Hitler dengan pasukan Schutzstaffeatau SS membunuh sekitar enam juta orang Yahudi.
Tragedi Kemanusiaan
Pertanyaannya tentu, mengapa bisa terjadi demikian? Mengapa ada orang-orang atau bahkan pemimpin yang tidak memiliki hati, yang tidak memiliki rasa kemanusiaan tanpa rintangan bisa memuaskan nafsu tribalismenya.
Baca: Ini Alasan Yusril Ihza Mahendra Sudi Jadi Pengacara Jokowi-Maruf Amin Tanpa Dibayar
Nafsu agresif mereka mengalahkan rasa simpati dan kebaikan manusiawi apa pun yang lazimnya dimiliki manusia.
Hasilnya adalah kekerasan buas di dalam negeri, maupun keberingasan dan terorisme yang makin hari makin canggih di tingkat global.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20170916-arena-isis_20170916_134606.jpg)