Jumat, 8 Mei 2026

Coworking Space

Bisnis Coworking Space Terus Tumbuh, Ciri Khas Menjadi Modal untuk Bertahan

"Coworking itu seperti restoran. Tiap coworking punya flavor (rasa) sendiri. Bahkan pendirinya akan jadi soul di coworking tersebut."

Tayang:
Penulis: | Editor: Fred Mahatma TIS
Istimewa
PRESIDEN Komunitas Coworking Indonesia Faye Alund (kiri) dan Yan Prasetya, CEO DreamHub. 

RUANGAN dengan meja kursi yang dilengkapi akses internet, jadi gambaran coworking space. Saat ini jumlahnya semakin banyak terutama di Kota Besar.

Presiden Komunitas Coworking Indonesia Faye Alund menceritakan cikal bakal munculnya coworking di Bandung tahun 2010. Bentuk awalnya bukan seperti gambaran coworking saat ini tapi masih berupa rumah.

Sampai tahun 2015, pertumbuhannya masih lambat. Baru ada 30 coworking space di Indonesia. Baru setahun kemudian di tahun 2016 naik menjadi 70an.

Tahun 2017 meningkat pesat menjadi 170 dan kini 200an di tahun 2018. Tersebar sampai di 44 kota. Walaupun 80 persen di antaranya berada di Pulau Jawa, khususnya Jakarta sampai 50 persen.

Di tengah munculnya coworking space, diperlukan suatu ciri khas agar bisa bertahan.

PRESIDEN Komunitas Coworking Indonesia Faye Alund (kiri) dan Yan Prasetya, CEO DreamHub.
PRESIDEN Komunitas Coworking Indonesia Faye Alund (kiri) dan Yan Prasetya, CEO DreamHub. (Istimewa)

"Coworking itu seperti restoran. Tiap coworking punya flavor (rasa) sendiri. Bahkan pendirinya akan jadi soul di coworking tersebut," kata Faye saat peluncuran DreamHub di Equity Tower, belum lama ini.

Ia menjelaskan, coworking space bukan tempat kerja biasa. Kalau hanya tempat kerja namanya working space saja.

Kata Co pada coworking space melambangkan community relevan dengan support system. Ketika berada di komunitas, meyediakan suport sistem dan tergabung dengan orang lain. Coworking space juga harus mampu mengakselerasi seredipity (kebetulan-kebetulan yang menguntungkan).

Di tengah menjamurnya coworking space, harus punya pembeda, backgroundnya apa, ada workshop, networking dan investor. Mereka yang tergabung dalam komunitas bisa meningkatkan diri, terhubung dan berkolaborasi.

”DreamHub akan menjadi lebih dari sekedar ruang kerja komunal. Kami hadir dengan visi kolaborasi dan pemberdayaan kewiraswastaan baik di bidang teknologi maupun yang lainnya melalui sinergi dan kolaborasi," ujar Yan Prasetya, CEO DreamHub di kesempatan yang sama.

Pemberdayaan Kewiraswastaan

Menurutnya, yang akan membedakan DreamHub dengan ruang kerja komunal lainnya di Jakarta adalah adanya kolaborasi dan pemberdayaan kewiraswastaan.

"Kami berharap melalui DreamHub, akan muncul perusahaan-perusahaan perintis baru yang dapat bersaing di bidangnya masing-masing," kata Yan.

Pada peluncurannya yang mengusung tema ”Experience the Dream”, selain memperkenalkan diri dan produknya, DreamHub juga melangsungkan workshop dengan tema “Developing the Brand is the Biggest Investment in Your Business".

Dengan mengundang pembicara seperti Nadia Zein, Chief Happiness Officer, CIRCA ideaworks dan Ray Rahendra, Creative Strategic Director, GetCraft, workshop ini mencoba menekankan pada pengembangan konsep dan identitas dari sebuah merek agar dapat bersaing di era digital yang begitu ketat.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved