Kamis, 9 April 2026

Cuma Dapat Rp 20.000 Sehari, Pemulung Anak: Saya Bukan Pengemis

"Saya disuruh pergi. Padahal saya bukan pengemis. Mungkin orang lihat saya bawa karung sampah dan pakaian saya lusuh. Jadi dikira saya ngemis."

Editor: Fred Mahatma TIS
Kompas.com/Idon Tanjung
UCOK melintas di Jalan Sumatera, Pekanbaru, menuju pulang ke rumah membawa barang bekas, Senin (23/7/2018). 

NAMANYA Suprianto. Usianya baru 12 tahun tetapi dia harus banting tulang demi mendapatkan biaya sekolah dengan jadi pemulung.

Ucok, begitu panggilan sehari-hari, adalah anak dari pasangan Enasokhi (40) dan Enaria (43) ini. Setiap hari ia memungut barang bekas sepulang dari sekolah hingga malam hari.

Bocah yang tinggal di Jalan Sutomo, Kecamatan Limapuluh, Pekanbaru, Riau, ini merupakan murid kelas 5 SDN 87 Pekanbaru. Menjadi pemulung sudah dilakoninya sejak kelas 3 SD.

Ucok bercerita, dalam sehari kadang cuma dapat Rp 20.000. Selain untuk biaya sekolah, uang itu juga untuk kebutuhan sehari-hari.

Baca: Sejak Kelas III SD, Anak Ini Jadi Pemulung untuk Biaya Sekolah 

UCOK ketika ditemui di Jalan Sumatera, Pekanbaru, menuju pulang ke rumah membawa barang bekas, Senin (23/7/2018).
UCOK ketika ditemui di Jalan Sumatera, Pekanbaru, menuju pulang ke rumah membawa barang bekas, Senin (23/7/2018). (Kompas.com/Idon Tanjung)

Dia juga pernah mengalami pengalaman buruk saat mencari barang bekas.

"Saya pernah diusir petugas pertamina karena dikira saya pengemis," ucap Suprianto saat ditemui di Jalan Sumatera, Pekanbaru, Senin (23/7/2018) malam.

Dia menuturkan, pengalaman itu terjadi sekitar sebulan yang lalu. Saat itu dia tengah duduk di sebuah SPBU karena kelelahan.

"Saya disuruh pergi. Padahal saya bukan pengemis. Mungkin orang lihat saya bawa karung sampah dan pakaian saya lusuh. Jadi dikiranya saya ngemis," ungkap Ucok.

Menurut dia, lebih baik menjadi pemulung daripada mengemis.

Pengalaman buruk lainnya, lanjutnya, dia pernah hujan-hujanan pulang ke rumah sambil memikul sampah yang berhasil dikumpulkan ke dalam kantong plastik besar.

Ucok mengaku terpaksa menempuh derasnya hujan disertai angin kencang saat itu karena sudah larut malam.

"Jam 10 malam, saya masih berada di Jalan Hangtuah. Rumah saya di Jalan Sutomo, Kecamatan Limapuluh, Pekanbaru, jaraknya sekitar empat kilometer lagi," ungkap dia.

Dia mengaku bukan sekali itu menempuh hujan deras saat menuju rumah membawa barang bekas untuk dijualnya lagi.

"Kalau hujan kadang dilewati saja. Karena takutnya mamak sama ayah kehilangan," ujar Ucok.

Sebagai seorang murid SD, Ucok sebenarnya tidak pantas menyambi jadi pemulung. Namun nasib berkata lain. Dia tidak bisa seperti anak-anak yang lain yang bisa menikmati waktu untuk belajar dan juga bermain.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved