Kesehatan
Jumlah Perokok Pemula semakin Meningkat Menjadi 88,6 Persen
Rokok murah mendorong anak-anak yang mampu membeli rokok dan dapat teradiksi sehingga menjadi perokok yang tidak dapat berhenti seterusnya
Penulis: |
WARTA KOTA, PALMERAH--- Jumlah perokok pemula semakin meningkat. Hampir 88,6 persen perokok mulai menghisap rokok dibawah usia 13 tahun.
Ketua Tobacco Control Support Center, Dr Santi Martini, dr.M.Kes mengakui bahwa harga rokok di Indonesia memang terlalu murah.
Hal itu menyebabkan jumlah perokok pemula meningkat dari 7,2 persen pada 2013 menjadi 8,8 persen pada 2016 (Sirkesnas, 2016).
Padahal sebelumnya, Kementerian Kesehatan menargetkan penurunan prevalensi perokok anak usia di bawah 18 tahun sebesar 1 persen setiap tahunnya.
" Ini menunjukkan, rokok murah juga mendorong anak-anak yang mampu membeli rokok dan dapat teradiksi sehingga menjadi perokok yang tidak dapat berhenti seterusnya," ujar Dr Santi seperti dikutip dari keterangan pers yang diterima Warta Kota, Senin (23/7/2018). Harga rokok dianggap tidak murah ketika Rp 60.000.
Baca: Masih Doyang Merokok Sambil Nyetir Motor? Siap-siap Dijambret
Berdasarkan riset Atlas Tobbaco, Indonesia menduduki ranking tiga negara dengan jumlah perokok tertinggi di dunia.
Jumlah perokok di Indonesia tahun 2016 mencapai 90 juta jiwa. Indonesia menempati urutan tertinggi prevalensi merokok bagi laki-laki di ASEAN yakni sebesar 67,4 persen. Kenyataan itu diperparah semakin muda usia perokok di Indonesia.
Data Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak menunjukkan, jumlah perokok anak di bawah umur 10 tahun di Indonesia mencapai 239.000 orang.
Sebanyak 19,8 persen pertama kali mencoba rokok sebelum usia 10 tahun dan hampir 88,6 persen pertama kali mencobanya di bawah usia 13 tahun. Kebanyakan perokok berasal dari keluarga kurang mampu.
Dia menjelaskan, 84,8 juta jiwa perokok di Indonesia berpenghasilan kurang dari Rp 20.000per hari. Perokok di Indonesia 70 persen di antaranya berasal dari kalangan keluarga miskin.
Baca: Orangtua Merokok, Anak Bisa Stunting
Deklarasi AMKRI
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa pada September 2016, rokok adalah komoditas yang menyumbang kemiskinan sebesar 10,70 persen di perkotaan dan pedesaan.
“Kalau harga rokok tidak segera dinaikkan, maka Indonesia akan segera menghadapi gangguan ekonomi yang disebabkan menurunnya produktivitas dan membengkaknya anggaran jaminan kesehatan nasional,” ucap Dr Santi di acara deklarasi
Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI) di Surabaya, Jawa Timur.
AMKRI Jawa Timur beranggotakan pasien dari berbagai macam penyakit seperti kanker pita suara, kanker payudara, kanker paru, penyakit stroke, jantung, asma, penyakit kronik paru.
Selain itu, anggota AMKRI dari keluarga korban yang memiliki semangat dan tujuan yang sama dalam pengendalian rokok di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/amkri_20180723_201457.jpg)