Istri Pak RT Malah Dipersulit saat Minta Dirawat di RSCM Meski Mantan Pegawai
Budi tak memikirkan untuk menyelamatkan harta benda, selain istrinya yang tidak berdaya terbaring di tempat tidur.
Penulis: Rangga Baskoro |
SOSOK Budi Cahyo (53), Ketua RT 04 menjadi satu dari sekian korban yang terdampak kebakaran di Menteng Tenggulun, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (14/7/2018) lalu.
Budi tinggal bersama istrinya Sri Hastuti (58) yang mengalami stroke sejak akhir 2017.
Selain itu, ada pula anaknya yang saat kejadian tidak ada di lokasi lantaran belum pulang bekerja.
Saat terjadi kebakaran, Budi tak memikirkan untuk menyelamatkan harta benda, selain istrinya yang tidak berdaya terbaring di tempat tidur karena penyakit stroke.
Semua alat bantu terpaksa dilepaskan untuk mempermudah proses penyelamatan.
"Semua alat bantu saya copot, ada banyak, seperti tabung oksigen, kateter dan lainnya. Total semuanya senilai Rp 15 juta. Saya tinggalkan dan hangus terbakar," kata Budi di lokasi, Senin (16/7/2018).
Setelah diselamatkan, kondisi Sri perlahan tidak stabil. Ia pun meminta petugas dari PMI yang didampingi anaknya untuk merujuk Sri ke RSCM di malam hari. Pertimbangannya, Sri merupakan pensiunan RSCM bidang administrasi P3RN, ia pensiun sejak akhir 2017 dan sempat dirawat di RSCM sejak divonis stroke.
Saat tiba di RSCM, anaknya menyebutkan bahwa pihak rumah sakit tak melayaninya dengan cepat dengan alasan Sri tak memiliki surat identitas apapun.
"Anak saya sudah jelasin kalau ibunya mantan pegawai di sana. Rumah kami baru terbakar beserta KTP dan dokumen lain milik istri saya. Tapi pihak RSCM enggak mau tahu dan tetap minta identitas diri," ungkapnya.
Anaknya pun terpaksa menemui Budi yang masih mengantungi KTP didompet. Setelah membawa identitas ayahnya, pertolongan pertama baru bisa dilakukan.
Namun demikian, ia kembali kecewa karena pihak RSCM menyatakan kondisi Sri sudah stabil, kemudian ia diperbolehkan untuk kembali ke rumah.
"Bagaimana mau kembali ke rumah kalau rumahnya saja baru terbakar. Saya sudah bilang tidak apa-apa dirawat di kelas apa saja, tapi mereka bilang tidak bisa dan hanya memberikan waktu hingga pukul 20.00," ujar Budi.
Ia pun meminta bantu kepada Lurah Menteng, Agus Sulaiman yang kemudian merujuk Sri ke RS Tarakan agar dirawat secara intensif, setelah sebelumnya memperoleh surat rujukan dari Puskesmas Kelurahan Menteng.
"Ya sudah istri saya akhirnya pindah ke RS Tarakan. Saya kecewa, kok perlakuannya RSCM seperti itu kepada istri saya yang sudah 25 tahun bekerja di sana. Terlebih lagi, kami korban bencana. Bukannya ditangani dengan cepat, malah berbelit-belit," keluhnya.
Sementara itu, Kepala Humas RSCM Rosita menyatakan belum mengetahui kabar tersebut karena sedang ada di luar kantor.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/bakar_20180716_184315.jpg)