Kamis, 16 April 2026

Daripada Membunuhnya, Tokoh Proklamator Bung Karno Punya Cara Mengusir Nyamuk

Empati Bung Karno terhadap para binatang sudah tidak diragukan lagi. Ia tidak suka membunuh apalagi menyiksa binatang.

Penulis: AchmadSubechi | Editor: AchmadSubechi
Instagram
Keluarga Bung Karno dan Ibu Fatmawati dekat dengan Islam. 

ESOK, Kamis (6/6/2018) HUT ke-117 Presiden RI Soekarno. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kota Blitar, Jawa Timur, akan penuh sesak dengan datangnya para peziarah dari berbagai daerah ke makam Bung Karno.

Tahun lalu, patung Bung Karno yang diberi nama Putra Sang Fajar yang berdiri di Simpang Herlingga, Kota Blitar, diresmikan, Selasa (6/6/2017).

Patung Bung Karno itu merupakan patung kelima dan menjadi patung terakhir yang dibangun Pemkot Blitar di Bumi Proklamator.

Empat patung lainnya sudah dibangun lebih dulu, yakni masing-masing berada di Makam Bung Karno, Balai Kota Blitar, Istana Gebang, dan Simpang Jalan Sumatera.

"Ini patung terakhir yang kami bangun. Cukup lima sesuai dengan sila Pancasila yang jumlahnya lima," kata Wali Kota Blitar Samanhudi ketika itu.

Patung Bung Karno di simpang Herlingga itu dinamakan Putra Sang Fajar. Lokasi patung memang berada paling timur di Kota Blitar yang merupakan perbatasan wilayah kota dan Kabupaten Blitar.

Pembangunan patung itu selama delapan bulan. Dana pembangunan patung sekitar Rp 2 miliar dari APBD 2015.

Patung Bung Karno memiliki tinggi sembilan meter dengan bobot lima ton.

Patung itu dilapisi perunggu dengan ketebalan satu sentimeter di bagian luar. Sedang bagian dalam patung berbahan besi cor.

***

DALAM Buku Penyambung Lidah Rakyat, Soekarno bercerita tentang Putera Sang Fadjar. Berikut tulisan Bung Karno:

IBU telah memberikan pangestu kepadaku ketika aku baru berumur beberapa tahun. Dipagi itu ia sudah bangun sebelum matahari terbit dan duduk didalam gelap di beranda rumah kami jang ketjil, tiada bergerak.

Ia tidak berbuat apa-apa, ia tidak berkata apa-apa, hanja memandang arah ke Timur dan dengan sabar menantikan hari akan siang.

Akupun bangun dan mendekatinja. Diulurkannja kedua belah tangannja dan meraih badanku jang ketjil kedalam pelukannja.

Sambil mendekapkan tubuhku ke dadanja, ia memelukku dengan tenang. Kemudian ia berbitjara dengan suara lunak:

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved