Senin, 27 April 2026

Menaklukkan Puncak Gunung ala Komunitas Elang Salam

Dari namanya, orang akan mengira komunitas ini pencita burung Elang, ternyata bukan.

Penulis: Hironimus Rama |
Ibu-ibu komunitas Elang Salam mengenakan baju daerah lengkap dengan aksesorisnya di Puncak Gunung Gede, saat pendakian 7-8 Mei 2018 lalu. (Foto: Dokumen Elang Salam Bogor) 

MENDAKI gunung merupakan salah satu olahraga yang cukup menantang.

Aktivitas ini umumnya dilakukan anak-anak muda yang menyukai tantangan atau pun orang-orang dewasa yang bergabung dalam komunitas pencinta alam.

Namun, apa jadinya bila aktivitas ini dijalani ibu-ibu rumah tangga yang tidak terbiasa dengan kegiatanan petualangan di alam bebas?

Komunitas Elang Salam berkolaborasi dengan komunitas Sekolah Alam lainnya saat Susur Pantai Perdana, Legon Pari pada 20-21 Januari 2018. (Foto: Dokumen Elang Salam Bogor)
Komunitas Elang Salam berkolaborasi dengan komunitas Sekolah Alam lainnya saat Susur Pantai Perdana, Legon Pari pada 20-21 Januari 2018. (Foto: Dokumen Elang Salam Bogor) ()

Pasti seru dan heboh. Itulah yang dialami Komunitas Elang Salam Bogor.

Dari namanya, orang akan mengira komunitas ini pencita burung Elang, ternyata bukan.

Elang Salam merupakan singkatan dari Emak-emak Petualang Sekolah Alam.

Komunitas ini terdiri dari ibu-ibu yang menyekolahkan anaknya di Sekolah Alam Bogor.

Ade Soviany, salah satu pengagas Elang Salam, mengatakan komunitas ini awalnya terbentuk karena rasa penasaran mereka akan aktivitas ekspedisi dan petualangan yang sering dilakukan anak-anak mereka di Sekolah Menengah (SM) Sekolah Alam Bogor seperti mendaki gunung, menyusuri tepi sungai, camp di pulau, survival camp dan live in.

“Sebagai orang tua murid yang sering mengantar anak-anak ketika akan ekspedisi, kami tergelitik ingin mengetahui apa dan bagaimana anak-anak untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama melakukan ekspedisi. Kami ingin mengetahui bagaimana medan yang dijalankan anak-anak, mengapa anak-anak dibatasi dalam membawa perbekalan, mengapa anak-anak sering tidak mandi dan ganti baju dan sebagainya,” kata Ade saat ditemui Warta Kota di Lapangan Sempur Bogor, Minggu (13/5).

Suasana pendakian Gunung Semeru pada 26 Agustus 2017 lalu. (Foto: Dokumen Elang Salam Bogor)
Suasana pendakian Gunung Semeru pada 26 Agustus 2017 lalu. (Foto: Dokumen Elang Salam Bogor) ()

Tanpa keahlian
Berawal dari rasa ingin tahu ini, mereka lalu membentuk Komunitas Elang Salam.

Anggota komunitas ini adalah ibu rumah tangga dan ibu bekerja yang sebelumnya hampir tidak mempunyai keahlian mendaki gunung.

Hanya beberapa peserta yang pada saat mudanya aktif di pecinta alam.

“Bahkan ada anggota Elang Salam, jauh dari sosok pendaki pada umumnya, tapi malah lebih cocok sebagai sosok ibu-ibu pengajian,” tutur Ade.

Komunitas ini lalu meminta bantuan Arief Rahmawan, seorang pelatih dan guru Sekolah Alam Bogor, untuk melatih fisik dan mental mereka agar layak melakukan ekspedisi.

Ekspedisi pertama yang mereka lakukan adalah mendaki Gunung Gede pada 5-6 September 2015.

Momen pendakian pertama yang diikuti 10 anggota itu diperingati sebagai hari lahirnya komunitas ini.

Setelah sukses menaklukan Gunung Gede, mereka melakukan pendakian ke beberapa gunung lainnya di Pulau Jawa yaitu Gunung Pangrango, Gunung Ciremai dan Gunung Semeru.

“Kami telah melakukan 7 kali ekspedisi yaitu Gunung Gede (3x), Gunung Pangrango (2x), Gunung Ciremai (1x) dan Semeru (1x),” ujar Dian Permata, salah satu anggota Elang Salam.

Selain ekspedisi ke gunung, Elang Salam juga sering melakukan aktivitas lainnya yang lebih ringan seperti susur pantai, treking ke curug atau pun bukit yang ada di sekitar Bogor.

“Untuk susur pantai, kita pernah lakukan ke Pantai Legon Pari, Sawarna, Banten. Sementara treking ke bukit ada Bukit Lalana, Bukit Munara, Gunung Kapur dan Lembah Cisadon,” tambah Dian.

Selalu heboh
Lalu, apa yang menarik dari aktivitas petualangan para emak-emak ini?

Wah, ternyata kehebohan selalu terjadi saat mereka melakukan ekspedisi.

“Biasalah kita ibu-ibu pasti rempong, mulai dari urusan perlengkapan, busana hingga makanan. Kami selalu berusaha mempersiapkan semuanya dengan sangat baik. Soal makanan, misalnya, kami tidak ingin makanan mie instan atau roti saja saat pendakian. Kami harus membawa makanan yang enak dan lezat seperti rendang, soto, nasi liwet, puding, dan masih banyak lainnya,” tutur Ai Kusumastuti, anggota Elang Salam lainnya.

Tak hanya makanan, busana yang mereka bawa pun terkandang anti mainstream. Kalau para pendaki lain membawa pakaian yang simpel dan sporty, komunitas ini kadang membawa busana yang ribet.

“Kami pernah naik gunung dengan membawa daster, busana daerah dan busana unik lainnnya. Sampai di puncak kami selfie dengan busana-busana seperti ini. Heboh kan,” lanjut Ai.

Keberadaan komunitas Elang Salam ini memberikan dampak positif bagi anggotanya.

Selain lebih sehat dan fit, komunitas ini membuat para anggotanya makin disiplin, dan belajar empati terhadap sesama.

“Sejak bergabung dengan komunitas ini, saya menjadi lebih bugar dan fit serta jarang sakit. Saya juga bisa menambah banyak teman,” imbuhnya.

Komunitas Elang Salam Bogor terbuka terhadap ibu-ibu dari luar Sekolah Alam Bogor.

Ada beberapa anggota komunitas ini yang anaknya tidak sekolah di Sekolah Alam. (ron)

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved