AS Keluar dari Perjanjian Nuklir Iran, Barrack Obama: Itu Keputusan Sesat
"Jika perjanjian dengan Iran hilang, kita bakal melihat hari di mana kita bakal hidup dengan ancaman, atau terpaksa berperang untuk menghindarinya."
MANTAN Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, mengkritisi keputusan Donald Trump untuk keluar dari kesepakatan nuklir Iran.
Dilansir USA Today Selasa (8/5/2018), Obama menyatakan kekhawatirannya bahwa keputusan Trump tidak hanya merenggangkan hubungan AS dengan sekutunya di Eropa, tetapi juga berpotensi menyebabkan perang lain di Timur Tengah.
Dia menawarkan lebih dari 1.000 ringkasan mengapa kesepakatan itu dibutuhkan untuk menjaga perdamaian.
Mantan presiden berumur 56 tahun itu berujar, kesepakatan nuklir Iran sama artinya dengan berusaha membangun hubungan dengan Korea Utara (Korut).
"Karena itu, saya menyebut keputusan yang dibuat hari ini (Selasa waktu setempat) adalah sesat," kata Obama sebagaimana diwartakan CNN.
Presiden yang berkuasa pada periode 2009-2017 itu menegaskan, kredibilitas AS bakal terkikis karena tidak memenuhi komitmennya.
Dia memahami di setiap pergantian pemerintahan, sering terjadi pula pergantian kebijakan luar negeri. Dia juga menyadari Iran cenderung mendukung terorisme. Iran juga dianggap bisa mengancam sekutu AS, Israel, dan negara kawasan lain.
"Karena itulah, penting bagi kita untuk mempertahankan perjanjian tersebut," tegasnya.
Obama takut, keinginan Trump untuk keluar bakal membuat rezim Hassan Rouhani memproduksi senjata nuklir dan berpotensi menimbulkan perang di Timur Tengah.
"Jika perjanjian dengan Iran hilang, kita bakal melihat hari di mana kita bakal hidup dengan ancaman, atau terpaksa berperang untuk menghindarinya," kata Obama.
Mengisolasi AS
Tidak hanya Obama, mantan Menteri Luar Negeri John Kerry juga menyuarakan kekhawatiran. Kerry adalah sosok yang menciptakan perjanjian tersebut.
Kesepakatan bernama Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA) itu diteken Iran bersama AS, Perancis, Inggris, Rusia, China, dan Jerman. Kerry menyebut, keputusan Trump bakal mengisolasi AS dari sekutu Eropa, menempatkan Israel dalam bahaya, hingga menghancurkan usaha yang sudah dibuat sepanjang tiga tahun terakhir.
"Secara harfiah, presiden telah membuat krisis di mana seharusnya tidak ada situasi yang berpotensi menjadi krisis," kata Kerry dalam wawancara dengan MSNBC.
Bencana
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20180509-donald-trump-dan-barrack-obama_20180509_172749.jpg)