Selasa, 12 Mei 2026

Batik Bantengan, dari Kota Batu Merambah Kancah Internasional

“Tawaran untuk pameran datang tiba-tiba. Seperti pada tahun 2014, kami pernah diminta oleh Walikota Batu untuk pameran di Praha, Ceko..”

Tayang:
Editor: Fred Mahatma TIS
Istimewa
SENIMAN-seniman cilik menunjukkan hasil karya membatiknya di Sanggar Batik Andhaka, Malang. 

Tutor Batik

Rata-rata setiap bulan, tiap anak dapat membuat dua sampai empat lembar kain batik dengan teknik tulis, sehingga total kain yang diproduksi mencapai 60 lembar per bulan. Jumlah anak-anak yang mendapat didikan Sanggar Batik Andhaka bertumbuh pesat.

Tahun 2014 dimulai dari beberapa tutor batik yang diajarkan bagimana cara membatik dari awal sampai akhir. Kini telah hampir 40 sekolah di Batu yang memiliki tutor batik dan menyentuh sekitar 600 orang siswa. Sistem tutor batik dianggap lebih efektif oleh Anjani. Di mana siswa mengajari siswa lain, sehingga fungsi guru hanya sebagai pendamping.

Hal menarik lainnya Anjani rasakan ketika menerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards dari PT Astra International Tbk pada Oktober 2017 yang sampai sekarang dirinya tidak mengetahui siapa yang mendaftarkan.

ANJANI Sekar Arum, sosok wanita di balik Sanggar Batik Andhaka, Malang, Jawa Timur. Ia menerima  apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards kategori Kewirausahaan dari PT Astra International Tbk pada Oktober 2017.
ANJANI Sekar Arum, sosok wanita di balik Sanggar Batik Andhaka, Malang, Jawa Timur. Ia menerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards kategori Kewirausahaan dari PT Astra International Tbk pada Oktober 2017. (Istimewa)

Dari penghargaan itu Anjani menerima Rp 60 juta sebagai dana pengembangan ditambah Rp 15 juta sebagai penerima favorit. Anjani memanfaatkan hadiah tersebut lagi-lagi untuk membeli bahan-bahan dan peralatan membatik. Kemudian selebihnya Ia pakai untuk membeli tanah.

“Aku bercita-cita membangun semacam galeri batik di mana pengunjung bisa belajar membatik, belanja batik dan pernak-pernik khas Batu, tapi konsepnya tetap pedesaan. Karena di Batu ini masih sedikit sekali wisata edukasi yang kental kebudayaan khas Batu,” tutur Anjani mengutarakan mimpinya yang belum terwujud.

Sementara itu, tanah yang hendak Ia beli sedang mengalami permasalahan pada aktenya.

“Kalau tekadnya kuat dan tujuannya jelas, pasti ada jalan keluar,” tambahnya. (*)

Sumber: WartaKota
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved