Minggu, 3 Mei 2026

Merdunya Kicau Elang Bondol di Pulau Kotok

Tidak banyak yang tahu bahwa satwa ini merupakan ikon Provinsi Jakarta. maskot untuk logo Trans Jakarta.

Tayang:
Penulis: Mochammad Dipa |
Alija Berlian Fani
Sejumlah Elang Bondol (nama ilmiahnya Haliastur Indus) tengah menjalani rehabilitasi di Pulau Kotok Besar yang berada di Kepulauan Seribu. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- ELANG Bondol (Haliastur Indus) merupakan salah satu satwa liar khas Jakarta.

Satwa ini dilindungi oleh UU No.5 tahun 1990 dan diatur dalam PP No.7 tahun 1999.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa satwa ini merupakan ikon Provinsi Jakarta.

Hewan endemik ini bahkan menjadi maskot untuk logo Trans Jakarta.

Sebagai maskot kebanggaan DKI Jakarta, keberadaan Elang Bondol malah justru memprihatinkan.

Berdasarkan data terakhir dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN), pada tahun 2012 populasi Elang Bondol di Kepulaun Seribu dan Jakarta saat ini tidak lebih dari 25 ekor.

Melihat populasinya yang di ambang kepunahan, maka JAAN melakukan upaya konservasi elang bondol di Pulau Kotok, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara yang telah berjalan sejak tahun 2005.

Warta Kota berkesempatan mengunjungi langsung tempat konservasi Elang Bondol di Pulau Kotok, Kabupaten Kepulauan Seribu, Selasa (20/3/2018). Perjalanan memakan waktu 60 menit dari dermaga pantai Marina Ancol menuju dermaga Pulau Kotok menggunakan kapal cepat.

Setibanya di dermaga Pulau Kotok, Warta Kota bersama tim berjalan masuk ke dalam pulau dan langsung disambut suara kicauan elang bondong dari dua kandang besar bertuliskan sanctuary. Dua kandang itu berisi beberapa ekor elang bondol yang sudah tidak layak dilepasliarkan lagi.

Hasil sitaan

Ketua JAAN, Benvika, mengatakan, sejumlah Elang Bondol yang berada di Pulau Kotok berasal dari sitaan dan korban perdagangan satwa ilegal. Tak sedikit pula kondisi elang bondol yang mengalami cacat, seperti sayap yang patah, bahkan ada mata elang yang mengalami katarak akibat penangkapan elang bondol menggunakan kail.

“Sanctuary tuh istilahnya panti jompo. Jadi elang yang sudah tidak layak dilepasliarkan karena sayap primernya dipatahkan yang tujuannya untuk display. Jadi elangnya  sudah tidak bisa terbang,” ungkap Benvika kepada Warta Kota di Pulau Kotok, Kepulauan Seribu, Selasa (19/3).

Habitat asli

Benvika menyebutkan bahwa saat ini di Pulau Kotok terdapat total 18 kandang konservasi termasuk satu kandang yang berada di atas laut di pinggir pulau yang digunakan sebagai tempat terakhir sebelum elang ini dilepasliarkan.

“Di kandang sanctuary ada 21 ekor. Saat ini total ada sekitar 40 ekor elang yang kami rawat. Selain 21 ekor yang ada di kandang sanctuary, sisanya dalam proses konservasi menunggu sampai bisa dilepasliarkan,” jelasnya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved