Direktur CIA Wanita Pertama Ini Punya Program Interogasi Brutal
Selama 33 tahun karirnya, sebagian besar dihabiskan dalam penyamaran. Sejumlah pihak menuduhnya sebagai penjahat perang.
WARTA KOTA, WASHINGTON DC --- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan mengangkat Gina Haspel sebagai Direktur Dinas Rahasia AS ( CIA), Selasa (13/3/2018). Keputusan tersebut dibuat setelah direktur sebelumnya, Mike Pompeo, naik menjadi Menteri Luar Negeri menggantikan Rex Tillerson yang dipecat.
Diberitakan The Independent, karir perempuan 61 tahun tersebut terbilang cemerlang sejak bergabung bersama CIA pada 1985. Selama 33 tahun karirnya, sebagian besar dihabiskan dalam penyamaran, Haspel memperoleh Penghargaan Presidential Rank. Penghargaan tersebut merupakan yang paling prestisius di kalangan dinas sipil Negeri "Paman Sam".
Baca: Ini Mike Pompeo, Direktur CIA yang Dipilih Trump Jadi Menlu AS
Namun, keputusan Trump merekomendasikan Haspel menuai perdebatan. Sebab, dia dianggap sebagai sosok yang sangat kontroversial.
Kalangan pegiat HAM dan sejumlah politisi menuduhnya sebagai penjahat perang setelah dia diketahui punya program interogasi brutal.
Haspel menjalankan sebuah fasilitas rahasia di Thailand pada 2002 berkode Cat's Eye. Fasilitas tersebut pernah menampung dua anggota Al Qaeda, Abd al-Rahim al-Nashiri dan Abu Zubaydah.
Baca: Pecat Menlu Tillerson, Ini Alasan Donald Trump
Komite Intelijen Senat AS pada Desember 2012 memaparkan, Nashiri dan Zubayda disiksa dengan cara-cara yang tidak manusiawi. Antara lain dibenamkan dalam air, hingga siksaan yang membuat Zubaydah dilaporkan kehilangan mata kirinya.
Video interogasi mereka langsung dimusnahkan CIA di 2005, setelah Haspel mengajukan memo kepada bosnya saat itu, Jose Rodriguez.
Alhasil, keputusan Trump untuk mengangkat Haspel mendapat penolakan dari Wakil Direktur Perkumpulan Kemerdekaan Sipil AS (ACLU) Christopher Anders.
"CIA harus mengeluarkan bukti Haspel melakukan penyiksaan terhadap tahanan sebelum Senat AS mempertimbangkannya," kata Anders dilansir The Guardian.
Selain Anders, kecaman juga datang dari mantan rival politik Barack Obama di Pilpres 2008, Senator John McCain. McCain, mantan tahanan Perang Vietnam, mendesak agar Haspel menjelaskan tentang program interogasi yang dia pakai di CIA.
Baca: Trump pun Pecat Wakil Menteri Luar Negerinya
Meski dikecam, ada juga yang mendukung pencalonannya. Antara lain dari mantan Direktur Intelijen Nasional, James Clapper.
"Saya sangat senang, karena Haspel adalah sosok kuat yang berhasil mengintegrasikan seluruh komunitas intelijen di AS," kata Clapper.
Selain Clapper, Senator Richard Burr juga melihat Haspel sebagai sosok tepat dalam memimpin CIA.
"Dia sangat berbakat, berpengalaman, dan mempunyai penilaian bagus untuk memimpin dinas rahasia kami," kata Burr. (Ardi Priyatno Utomo)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengenal Gina Haspel, Calon Direktur CIA yang Kontroversial"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20180314-gina-haspel_20180314_214412.jpg)