Kamis, 7 Mei 2026

Bursa Efek Indonesia Mengawal 42 Perusahaan Rintisan Masuk Bursa

BEI terus menjaring perusahaan rintisan (start up) untuk masuk bursa saham. Lewat program IDX Incubator, BEI kini mengawal 42 perusahaan rintisan.

Tayang:

WARTA KOTA, PALMERAH---Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menjaring perusahaan rintisan (start up) untuk masuk bursa saham. Lewat program IDX Incubator, BEI kini mengawal 42 perusahaan rintisan.

Bahkan ada satu perusahaan rintisan yang sudah siap melenggang di bursa. Perusahaan tersebut bergerak di bidang financial technology (fintech).

Baca: Go-Jek Datang ke Bursa Efek Indonesia Ketemu Direktur Utama BEI, Sinyal Akan Go Public?

"Ada satu yang sudah memenuhi net tangible asset sebesar Rp 5 miliar," kata Head of IDX Incubator, Irmawati Amran, Selasa (6/3/2018).

Namun dia belum mau bilang kapan perusahaan itu masuk bursa.

"Perusahaan itu menyiapkan secara internal, GCG (good corporate governance) dan kecukupan modal disetor untuk go public pada tahun ini," kata Irmawati.

Baca: Perusahaan Rintisan Naik Daun, BEI Menargetkan 35 Start Up IPO Tahun Ini

Di luar 42 start up tadi, tahun ini, IDX Incubator berencana menjaring 40 perusahaan rintisan. Perinciannya, sebanyak 20 perusahaan berlokasi di Jakarta, 15 di Bandung, dan lima perusahaan di Surabaya.

Di luar IDX Incubator, satu perusahaan sudah bersedia mencatatkan saham di BEI (IPO).

Perusahaan ini memiliki lebih dari Rp 5 miliar. Jadi, sudah ada dua perusahaan start up yang siap go public.

Kedua perusahaan ini mungkin mengincar nilai emisi setara IPO PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS), yang lebih dulu IPO.

Pada 5 Oktober 2017, KIOS menggelar IPO dengan meraup dana senilai Rp 45 miliar.

Baca: Bursa Efek Indonesia Mengusulkan Pajak Dividen Dihapus, Ini Kata Direktur Utama BEI

BEI juga mendekati perusahaan start up level unicorn seperti Go-Jek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak.

Analis teknikal Profindo Sekuritas Indonesia, Dimas Wahyu Putra Pratama, mengatakan, sebelum membeli saham start up, investor perlu mencermati rencana penggunaan dana IPO tersebut.

Jika digunakan untuk ekspansi, maka saham start up itu layak dikoleksi.

Investor juga harus memahami prospek perusahaan dalam 10 tahun, tak cuma jangka pendek.

"Yang membedakan perusahaan rintisan dan perusahaan biasa adalah nilai bisnisnya," kata Dimas.

Nilai bisnis yang dimaksud adalah prospek dalam jangka panjang. Nilai start up juga tak bisa semata-mata dihitung dari rasio laba rugi.

Kontan.co.id/Elisabet Lisa Listiani Putri 

Berita ini sudah diunggah di Kontan.co.id dengan judul BEI Menjaring Perusahaan Rintisan untuk Masuk Bursa Saham

Sumber: Kontan
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved