Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Terheboh

Awas ! Virus Kawasaki, Kenali Gejalanya Sejak Dini

Para peneliti maupun dokter ahli pun, hingga kini belum ada yang tahu penyebab dari virus Kawasaki ini.

Tayang:
Surya
Data manifestasi klinis penyakit yang disebabkan virus Kawasaki dari minggu ke minggu. 

"Jika Dokter yang tidak mengetahui penyakit ini, pasti akan mendiagnosa sebagai penyakit Demam Berdarah atau Campak. Namun, virus ini tidak menular," urainya,Selasa (30/1/2018).

Setelah demam berkepanjangan, lanjutnya, tiba-tiba mata memerah, serta mulut dan bibir kering dan kemudian juga memerah. Meskipun tes darah, tes urine, dan foto thorax hasilnya semuanya normal.

"Jika terlambat dideteksi atau panasnya melebihi hari ketujuh, dikhawatirkan virus Kawasaki ini bisa menyerang pembuluh darah dan jantung,"papar dokter yang juga praktek di RSUD Dr Soetomo ini.

Bahkan, jika penderita yang sudah terserang, selain mata, bibir dan mulut memerah, telapak tangan, telapak kaki, dan bagian leher juga akan memerah.

Obat utama yang bisa menangkal virus Kawasaki ini adalah imunoglobulin yang diberikan dengan dosis 2 gram per kilogram berat badan diberikan dalam 12 jam. Selain itu, juga diberikan obat aspilet sebagai pengencer darah untuk mencegah terjadinya serangan jantung.

Pemakaian obat ini sama dengan infus. Namun, takaran untuk tiap anak berbeda-beda, bergantung berat badan.

Semakin berat badan anak tersebut, semakin banyak juga pemakaian obat ini. Setiap botol atau isi 50ml akan habis dalam waktu sekitar 4 jam.

"Bagi para orang tua diimbau agar lebih memperhatikan kesehatan anak-anaknya, karena sebagian orang tua biasanya menganggap hal biasa ketika suhu badan anak mengalami panas demam," ungkapnya.

Pemakaian obat ini sama dengan infus. Namun, takaran untuk tiap anak berbeda-beda, bergantung berat badan.

Semakin berat badan anak tersebut, semakin banyak juga pemakaian obat ini. Setiap botol atau isi 50ml akan habis dalam waktu sekitar 4 jam.

"Bagi para orang tua diimbau agar lebih memperhatikan kesehatan anak-anaknya, karena sebagian orang tua biasanya menganggap hal biasa ketika suhu badan anak mengalami panas demam," ungkapnya. (Sulvi Sofiana)

Sumber: Surya
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved