Merahnya Petak Sembilan
Terdapat beberapa tempat sembahyang etnis Tionghoa yang sebagian besar beragama Budha dan Konghucu.
WARTA KOTA, TAMAN SARI -- Kawasan Petak Sembilan merupakan Kawasan Pecinan yang terletak di Kelurahan Glodok, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Penduduk mayoritas di daerah ini merupakan etnis Tionghoa.
Oleh karena itu, kawasasan ini sangat kental dan identik dengan budaya Tionghoa.
Terdapat beberapa tempat sembahyang etnis Tionghoa yang sebagian besar beragama Budha dan Konghucu.
Vihara yang ada di Jalan Kemenangan, kawasan Petak Sembilan diantaranya vihara Dharma Jaya Toasebio, vihara fat Cu Kung Bio serta vihara Dharma Bhakti yang merupakan salah satu vihara terbesar dan tertua di Jakarta.
Saat berkunjung ke kawasan ini, jurnalis Warta Kota memarkirkan kendaraan di depan sebuah mini market yang berada persis di seberang vihara Dharma Jaya Toasebio.
Di gerbang vihara, terdapat pedagang makanan dan beberapa orang pengurus yang sedang asyik menyantap makanannya.
Mereka menyapa dengan ramah dan mempersilakan jurnalis Warta Kota untuk masuk.
Memasuki komplek vihara, warna merah dan aroma hio yang tajam menjadi suguhan pembuka.
Pada zaman penjajahan Belanda tepatnya tahun 1740 Masehi, vihara ini pernah dibakar dan dibangun kembali hingga selesai pada tahun 1754.
Itu artinya, vihara Dharma Jaya Toasebio sudah berumur sekitar 263 tahun.
Oleh pengurusnya, vihara Toasebio dibuka mulai pukul enam pagi hingga pukul tujuh malam dan pada hari-hari tertentu seperti hari besar barulah tutup sampai lewat tengah malam.
Dewa-dewi yang ada dalam vihara cukup banyak, diantaranya adalah Dewa Chen Goan Chen Kun yang bertindak sebagai dewa tuan rumah.
Penganut Tridharma tampak bergantian sembahyang dalam vihara untuk memanjatkan do'a beserta puji-pujian kepada dewa-dewi di sana.
"Yang datang beribadah ke vihara ini tergolong ramai, ada yang datang dari luar kota bahkan wisatawan asing. Mereka adalah penganut Tridharma, yaitu Budha, Konghucu dan Tao. Paling ramai setiap tanggal satu dan lima belas penanggalan Tionghoa," terang Tawi Masali, salah seorang pengurus vihara Toasebio.
Selain itu, di sebelah kiri halaman bangunan viahara terdapat prasasti yang menyebutkan nama-nama donatur pemugaran vihara setelah dibakar oleh Belanda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20171109merahnya-petak-sembilan_20171109_210045.jpg)