Yuk, Jelajahi Lautan Nusantara Melalui Museum Bahari
Pada masa pendudukan Belanda, tempat ini berfungsi sebagai gudang hasil bumi Nusantara, khususnya rempah-rempah
WARTA KOTA, PENJARINGAN -- Museum Bahari adalah bangunan bersejarah peninggalan VOC yang sekarang dijadikan sebagai tempat penyimpanan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian atau kelautan Indonesia.
Letaknya berada di Jalan Pasar Ikan, Penjaringan Jakarta Utara, tidak jauh dari Pelabuhan Sunda Kelapa.
Pada masa pendudukan Belanda, tempat ini berfungsi sebagai gudang hasil bumi Nusantara, khususnya rempah-rempah yang menjadi komoditi utama masa itu.
Pada masa pendudukan Jepang di tanah air, bangunan museum bahari juga dijadikan tempat penyimpanan barang-barang logistik.
Setelah kemerdekaan Indonesia, sempat dipakai sebagai gudang PLN.
Kemudian pada tahun 1976 barulah dilakukan pemugaran hingga secara resmi dinamakan Museum Bahari pada tanggal 7 Juli 1977.
Ketika jurnalis Warta Kota diajak berkeliling Museum Bahari, terdapat beberapa ruangan yang dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan koleksi-koleksi kelautan Indonesia.
Dengan ditemani oleh seorang pemandu yang bernama Sukma Wijaya (53), jurnalis Warta Kota diajak berkeliling ruangan demi ruangan.
Pertama, Ruang Perahu Asli. Dalam ruangan ini pengunjung dapat melihat jenis-jenis perahu asli tradisional yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Perahu Compreng dari Cirebon, Perahu Seman dari Papua, Perahu Jukung Barito dari Kalimantan dan masih banyak lagi.
"Nah, ini perahu seman, dari Papua. Keunikannya, perahu ini dibuat dari sebatang pohon yang dilubangi, benar-benar dari sebatang pohon." terang Wijay, sapaan akrab Sukma Wijaya.
Selain itu, menurut keterangan Wijay, Perahu Compreng dari Cirebon digunakan sebagai alat ujian kelayakan bagi calon pelaut.
Mereka dituntut untuk berjalan dari ujung perahu ke ujung lainnya saat perahu berada di tengah lautan.
Calon pelaut dikatakan lulus dan layak menjadi pelaut jika sudah melewati ujian tersebut dengan baik. Biasanya memakan waktu sampai dengan tiga bulan, tambah Wijay.
Kedua, pengunjung dapat menikmati dan mengetahui perkembangan teknologi perahu tradisional dari masa ke masa.
Selanjutnya Ruang TNI AL, Ruang Diorama Legenda Internasional dan Nasional, Ruang Navigator, Ruang Pelaut-pelaut Internasional yang Pernah Singgah di Sunda Kelapa, Ruang Penyimpanan Rempah-rempah, Perpustakaan dan Pemandangan Halaman Depan Museum Bahari yang dulunya adalah laut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20171108yuk-jelajahi-lautan-nusantara-melalui-museum-bahari2_20171108_164857.jpg)