Berlian Asal Indonesia Belum Diperhitungkan Dunia
Perusahaan perhiasan berskala besar sulit menggunakan berlian Indonesia karena standar serta sertifikat keasliannya belum diakui internasional.
Penulis: | Editor: Fred Mahatma TIS
WARTA KOTA, TANJUNG DUREN --- Indonesia memiliki hasil tambang yang luar biasa. Namun Indonesia tidak dianggap sebagai negara penghasil berlian.
Martapura di Kalimantan Selatan, merupakan salah satu penghasil berlian asal Indonesia. Sayangnya, berlian asal Indonesia itu belum masuk yang diperdagangan di pasar dunia.
Baca: Ini yang Bikin Investasi Berlian Kurang Atraktif
Salah satu alasannya, berlian tersebut dianggap kualitasnya masih kurang. Berlian yang berkualitas tinggi banyak berasal dari Afrika Selatan, India, dan Brazil. Bebatuan dari negara-negara itulah yang dijadikan perhiasan berkualitas tinggi dan harganya mahal.
Karena belum masuk di perdagangan dunia, tentu saja berlian Indonesia belum punya standard harga dan sejauh ini berlian asal Indonesia belum dijadikan bahan baku perhiasan berkualitas.
Ahli berlian dari Gemological Institute of America Devi Cahyadi menceritakan, Afrika Selatan punya sejarah panjang sebagai penghasil berlian. Walaupun India menjadi asal berlian yang dijadikan batu pertama dan barang bernilai tinggi.
Devi menceritakan, baru tahun 1400an, berlian dijadikan perhiasan dan masuk di kalangan bangsawan dan elit Eropa. Jauh sebelumnya, India telah menjadikan berlian sebagai alat jual beli. Namun saat itu, berlian belum dijadikan batu pertama.
Tahun 1700an, Brazil mulai merajai berlian dunia karena batuan itu banyak ditemukan di sana. Tapi, Brazil sebagai penghasil berlian kemudian digeser oleh Afrika Selatan hingga kini setelah di tahun 1800an ditemukan berlian seberat 80 carat.
Berita penemuan berlian di Afrika Selatan mendorong banyak orang terutama orang-orang Inggris untuk hijrah ke Afrika Selatan. Dan tidak sia-sia para pemburu berlian datang ke benua Afrika Selatan.
Awal-awal kedatangan warga Eropa di Afrika Selatan, berlian ditemukan di permukaan bagaikan krikil saja. Cerita itupun lagi-lagi membuat berduyun-duyun orang Eropa berdatangan ke Afrika Selatan, yang belakangan menjadi bagian dari warga kulit putih yang berdiam di Afrika Selatan.
Namun penemuan berlian di permukaan tentu saja tak berlangsung lama. Para pemburu berlian pun harus masuk ke dalam tanah untuk mencari mineral yang terbentuk ribuan bahkan jutaan tahun tersebut atau istilahnya mulai ditambang. Salah satunya adalah Beers yang kemudian menjadi perusahaan berlian yang ternama De Beers Diamond.
“Indonesia yang terkenal berliannya di Martapura. Tapi Indonesia belum masuk tambang berlian karena tidak diperdagangkan dengan skala besar,” kata Devi saat Media Workshop-Diamond Talk dengan tema Variasi Perhiasan Berlian di Pullman Hotel, Kamis (19/10/2017).
Karena tidak masuk dalam perdagangan dunia, tentu saja harganya pun tidak ada yang baku. Sehingga bagi perusahaan perhiasan berskala besar, sulit menggunakan berlian asal Indonesia karena standar serta sertfikat keasliannya masih sulit diakui secara internasional.
“Kalau sudah punya sertifikat yang berlaku global, berlian mau dijual di manapun tinggal menunjukan sertifikatnya. Tapi harus diingat, sertifikatnya jangan tertukar,” ujar Devi.
Bagi kalangan yang punya banyak perhiasan berlian, sertifikatnya pun tidak satu, sehingga di sini sangat mungkin tertukar jika tidak hati-hati saat menyimpan dan mengembalikannya usai dipakai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20171022-berlian-3_20171022_154114.jpg)