Selasa, 5 Mei 2026

Begini Cara Olah dan Seduh Kopi yang Benar, Agar Cita Rasa Tak Hilang

Sebanyak 50 petani kopi yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan di Jawa Barat menjalani pelatihan kewirausahaan bagi petani kopi.

Tayang:
Penulis: Budi Sam Law Malau |
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Suasana pelatihan kewirausahaan bagi petani kopi yang digelar Kementerian LHK bekerja sama dengan Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) di Preanger Point, Bandung. 

WARTA KOTA, DEPOK - Sebanyak 50 petani kopi yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Jawa Barat menjalani pelatihan kewirausahaan bagi petani kopi yang digelar Kementerian LHK bekerja sama dengan Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI).

Pelatihan digelar di Hotel Preanger Point, Bandung.

Pada hari kedua pelatihan, Sabtu (14/10/2107) materi pengenalan cita rasa kopi diberikan oleh Adi Taroepratjeka, Q Grader kopi Indonesia.

Q Grader dalam dunia kopi adalah orang yang telah mendapat sertifikasi dan bertanggung jawab menjalankan sistem penilaian cita rasa kopi yang berlaku universal.

Baca: Begini Aktivitas Purwati Berkeliling Menjual Kopi, Seharian Cuma Kantongi Rp 50 Ribu

Adi menjelaskan, belajar mengenal cita rasa kopi, bagus dilakukan secara kelompok, agar terjadi diskusi.

Dan tentunya kata dia harus ada pengajarnya untuk mengarahkan bagaimana memberi nilai pada kopi.

Hal inilah yang terjadi pada hari kedua pelatihan kopi yang digelar Kementerian LHK bekerja sama dengan Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), Sabtu.

Suasana pelatihan kewirausahaan bagi petani kopi yang digelar Kementerian LHK bekerja sama dengan Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) di Preanger Point, Bandung.
Suasana pelatihan kewirausahaan bagi petani kopi yang digelar Kementerian LHK bekerja sama dengan Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) di Preanger Point, Bandung. (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

Menurut Adi, kopi berkualitas adalah kopi yang ditanam dengan baik, pengolahan pasca panen dengan baik, dan biji kopi yang disortir secara baik.

"Kalau petani kita kan, kopi yang sudah disortir dijual, yang sudah patah-patah dan disapu, itu yang diminum. Jadi bagaimana bisa mengetahui kopi yang memiliki cita rasa bagus, kalau yang diminum kopi yang cacat," kata Adi yang juga merupakan Direktur 5758 Coffee Lab, disambut gelak tawa para petani kopi, Sabtu (14/10/2017).

Adi menyatakan, sudah saatnya petani kopi Indonesia dapat mengetahui cita rasa kopi dengan baik, agar mereka dapat dengan mudah berkomunikasi dengan siapapun, meski bahasanya berbeda.

"Caranya, kami bagikan lembar pecatatan kopi, lalu mereka diajari bagaimana mencium aroma biji kopi, mencium aroma kopi yang sudah digiling, dan mencium aroma kopi yang sudah diseduh, serta bagaimana cara menyeduh kopi," kata Adi.

Saat mereka mencium aroma kopi, hingga mencicip kopi, kata Adi cita rasa yang mereka rasakan ditulis di lembar pencatatan cita rasa.

"Melalui lembar pendaftaran kopi, kita menyamakan persepsi tentang nilai 7 untuk kopi seperti apa, nilai 7,5 seperti apa. Sehingga mereka bisa berkomunikasi tentang kopi dengan hanya menggunakan lembar pencatatan kopi," kata Adi.

Baca: Alasan Chicco Jerikho Berikan Donasi kepada Petani Kopi

Adi mengatakan, kalau ada kopi yang dicampur jagung, beras, kedelai, beras ketan hitam, itu awalnya terjadi karena petani hanya menjual hasil panen yang bagus.

Sisanya, kopi cacat atau pecah digiling, supaya banyak, mereka campur jagung, beras, atau kedelai.

"Dicampur nggak apa-apa, dan nggak ketahuan, tapi ketika petani tidak pernah minum kopi hasil sortiran yang bagus, mereka tidak akan pernah tahu cita rasa kopi enak," kata Adi. Para petani pun tertawa mendengar cerita Adi.

Menurut Adi, tidak ada yang salah mencampur kopi dengan komoditas lain.

"Di Lombok, mereka minum kopi dengan kayu manis, kelapa sangria untuk menambah cita rasa, tapi yang dipakainya adalah kopi terbaiknya. Jangan dibiasakan minum kopi cacat, tapi coba minum kopi yang bagus," kata Adi.

Cara menyeduh kopi, dijelaskan Adi, jangan menyeduh dengan air mendidih, tapi gunakan air panas 85 - 95 derajat.

"Setelah diseduh dengan air panas, biarkan 4 menit, lalu ambil ampasnya, cium lagi aromanya, pasti aromanya berubah, dibandingkan dengan aroma kopi yang baru diseduh," ujar Adi.

Semua petani kopi yang mengikuti pelatihan kewirausahaan ini, sangat antusias mendengar penjelasan Adi.

"Saya dapat ilmu baru tentang menilai cita rasa kopi, bagaimana menggiling kopi, menyeduhnya, hingga mencicip kopi," kata Dedi Priyadi (38) petani kopi, asal Sukajaya Lembang, yang mengikuti pelatihan.

Menurut Dedi, pelatihan yang baru pertama kali diikuti ini, sangat bermanfaat sekali karena dia jadi mengetahui bagaimana cara menanam kopi dengan baik, mengolah hasil panen dengan benar, dan menyeduh kopi.

"Ya, tentang cita rasa kopi dan ilmu barista sedikitnya bisa saya kuasai, setelah saya ikut pelatihan ini," ujar Dedi senang.

Ketua LMDH Lereoy Matita mengatakan, sangat berterima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini.

Sebab sengan pelatihan ini petani dapat wawasan baru tentang kewirausahaan kopi.

"Ini awal kerja sama yang baik untuk meneruskan tradisi pelatihan kewirausahaan kopi secara berkesinambungan. Petani kopi membutuhkan wawasan tentang cara menanam kopi yang baik, mengolah hasil panen, dan memprosesnya menjadi powder, sampai tata niaga kopi," kata dia.

Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hadi Daryanto menyatakan terima kasih kepada para petani kopi yang sudah sangat antusias mengikuti kegiatan kewirausahaan ini.

Dengan mengikuti pelatihan ini, katanya mereka sudah menjadi bagian dari petani agro forestry, yang tahu menanam kopi yang benar, mengolahnya, dan sekaligus mengetahui tata niaga kopi serta industri kopi, secara umum.

"Mereka bisa mengetahui kualitas kopi yang bagus dan mengenal cita rasa kopi dengan baik. Kegiatan ini tidak boleh selesai sampai disini, tapi harus dilakukan secara berkelanjutan," kata Hadi. 

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved