Senin, 11 Mei 2026

Ketika Soekarno Dibuat Jengkel Soeharto pada 1 Oktober 1965, Begini Ceritanya

Ketika mendengar pelarangan Pangdam V Jaya tidak boleh menghadap Bung Karno karena atas perintah Soeharto, Bung Karno tampak tidak senang.

Tayang:
Editor: Murtopo
Kompas.com
Bung Karno diapit dua jenderal Angkatan Darat, AH Nasution (kiri) dan Soeharto. Ketiganya tertawa lebar saat bertemu di Istana Merdeka, Jakarta, tahun 1966. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Usai aksi penculikan para jenderal pada 30 September 1965 malam, kondisi Jakarta  mencekam.

Selang beberapa jam kemudian atau sekitar pukul 09.00 WIB tanggal 1 Oktober 1965, Presiden Soekarno dibawa para pengawalnya ke lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. 

Tujuan pergi ke Lanud Halim, selain demi keselamatan Bung Karno, juga merupakan prosedur penyelamatan standar karena dari Lanud Halim Bung Karno bisa terbang ke mana saja menggunakan pesawat kepresidenan Jet Star.

Bung Karno tiba di  gedung markas Komando Operasi (Koops) tidak sendirian, ada Jaksa Agung Muda Sunario, Brigadir Polisi EW Lasut Zulkifli Ibrahim, dan para staf lainnya.

Sementara para pengawal setianya itu terdiri atas sejumlah personel Cakrabirawa berpakaian preman di bawah pimpinan Kolonel Malwi Saelan dan sejumlah polisi anggota Datasemen Kawal Pribadi (DKP) di bawah pimpinan Kompol Mangil.

Di dalam gedung Koops, Bung karno kemudian ditemui oleh KASAU Marsekal Oemar Dhani dan Komodor Leo Watimena.

Tujuan utama Bung Karno sebenarnya ingin mengetahui kejadian apa yang sedang berlangsung di Jakarta pada 1 Oktober 1965 dan melakukan koordinasi.

Tapi dari sejumlah penjelasan yang diberikan Oemar Dani dan sejumlah komandan pasukan yang datang menyusul, termasuk para komandan pasukan TNI AD yang sedang mengepung Istana Negara, Bung Karno merasa belum mendapatkan penjelasan yang memuaskan.

Demi mendapatkan informasi yang akurat Bung Karno lalu memerintahkan Kombes Polisi Sumirat untuk memanggil semua Panglima Angkatan.

Sumirat pun pergi keluar Halim dengan mengendarai jip yang dipinjamkan oleh Mangil.

Sekitar pukul 11.30 WIb sambil menunggu informasi, Bung Karno beristirahat di rumah Komodor Susanto yang merupakan pilot pesawat kepresidenan.

Tidak berapa lama kemudian datang Sumirat, melaporkan bahwa semua Panglima Angkatan sudah dihubungi dan menyatakan siap menghadap Bung Karno kecuali Pangdam V Jaya Umar Wirahadikusuma.

Saat ditemui  Sumirat, Warahadikusuma sedang di markas Kostrad Jalan Merdeka Timur dan bersama Pangkostrad Mayjen Soeharto.

Soeharto ternyata melarang Wirahadikusuma menghadap Bung Karno. Waktu itu bilang, “Sampaikan kepada Bapak Presiden, mohon maaf Pangdam V Jaya tidak dapat menghadap dan karena saat ini Panglima AD (Achmad Yani) tidak ada di tempat, harap semua instruksi untuk AD disampaikan melalui saya, Panglima Kostrad.”

Meskipun secara garis komando, ketika KASAD tidak ada di tempat, Pangkostrad secara otomatis boleh mengambil alih garis komando tapi perintah Presiden sebagai Panglima Tertinggi tetap harus dipatuhi.

Sumber: Intisari
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved