Rabu, 22 April 2026

Advertorial

Inovasi Berbagai Sektor untuk Kepentingan Rakyat

Presiden Joko Widodo tak henti melakukan percepatan pertumbuhan ekonomi agar Indonesia segera bangkit menjadi bangsa yang mandiri. Selain peningkatan

Editor: Andy Prayogo

WARTA KOTA, JAKARTA - Presiden Joko Widodo tak henti melakukan percepatan pertumbuhan ekonomi agar Indonesia segera bangkit menjadi bangsa yang mandiri. Selain peningkatan infrastruktur, sektor transportasi terus digenjot.

Kementerian Perhubungan bekerja ekstra dengan memicu inovasi jajarannya dengan terobosan-terobosan baru. Tujuannya satu, selalu memberikan sesuatu yang lebih untuk rakyat, mulai dari darat, laut, dan udara.

Dalam rangka Hari Perhubungan Nasional, wartawan Warta Kota Ichwan Chasani, Tri Broto serta fotografer Alex Suban melakukan wawancara khusus kepada Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi di kediamannya, Komplek Widya Chandra, Jakarta, Sabtu (16/9) lalu. Berikut petikan wawancaranya:

1.   Terkait Hari Perhubungan Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 September, bagaimana Kementerian Perhubungan merefleksikannya?

Kita melihat Hari Bakti Perhubungan akan menjadi relevan lagi apabila kita mengaitkannya dengan Nawacita. Roh dari Nawacita itu berbuat untuk rakyat. Kata Bakti juga ada konotasi kita harus berusaha keras memberikan sesuatu untuk rakyat. Karenanya, dalam kesempatan ini kita ingin meningkatkan, ingin memotivasi semua insan Perhubungan untuk berbuat lebih dan memberi makna bagi keseharian kegiatan transportasi itu menjadi lebih baik.

Untuk menjadi lebih baik itu tidak bisa kita hanya kerja rutin. Presiden selalu mengatakan secara general kita tidak boleh lagi hanya bekerja dengan rutin, tapi harus mengerjakan sesuatu dengan ekstra, dengan inovasi, dengan satu cara baru, agar terjadi terobosan-terobosan.

Lebih lagi terobosan dalam rangka memberikan sesuatu yang lebih bagi rakyat. Sebagai contoh saja, kereta api dari Bogor—Sukabumi selama ini kan tidak ditangani. Padahal nyata-nyata kalau ada orang Sukabumi, itu mendambakan sekali ada kereta api yang sehari 10 kali atau 20 kali. Sekarang itu cuma 3 kali. Ini bukan sekedar Presiden punya ide supaya Sukabumi mendapatkan layanan yang baik. Tetapi saya dan dirjen, memikirkan bagaimana ini ter-deliver dengan cepat dan memberikan arti signifikan.

2.   Rencana strategis Kementerian Perhubungan terutama dalam menangani sektor transportasi nasional sejauh ini implementasinya bagaimana?

Kita mulai dari darat. Darat itu kalau kita tanya orang apa masalahnya, pasti otomatis jawabannya adalah macet. Kemacetan itu bisa di kota besar, bisa antarkota. Untuk kota besar, Jakarta satu contoh yang baik, sedang dibangun MRT, LRT, dan BRT, atau TransJakarta. Nah nanti kita akan aplikasikan ini tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di Bandung, Surabaya, di tempat-tempat lain sehingga problem perkotaan ini bisa selesai.

Untuk antarkota, sekarang bus itu tidak memberikan layanan yang maksimal. Kami merevitalisasi bus agar bisa jalan dari satu tempat ke tempat yang lain.

Proyek kereta Jakarta—Surabaya pada Januari sudah mulai. Kita akan bangun 2-3 tahun. Kita selesaikan 500-800 lintasan sebidang sehingga Jakarta—Surabaya bisa ditempuh dalam waktu lima jam. Bisa saja nanti Jakarta—Semarang dulu. Waktu tempuh Jakarta—Semarang menjadi 2,5 jam kan menarik.

Sementara di laut, ada dua hal. Di tingkat nasional itu bagaimana tol laut menjadi motor (menangani—Red) disparitas harga dan angkutan penumpang ke Indonesia bagian timur. Di internasional, kita ingin membuat Pelindo II di Priok itu menjadi hub untuk tahap pertama. Setelah itu baru Kuala Tanjung, dilanjutkan Bitung. Dengan hub ini, kita harapkan kapal-kapal besar akan datang ke sini. Dengan kapal besar datang, maka efisiensi tercapai. Dengan efisiensi tercapai barang menjadi murah, dengan barang murah membuat industri tambah bagus. Kita mendorong mereka lebih konsentrasi menarik kapal-kapal besar.

Di udara, untuk konektivitas internasional kita akan meningkatkan dari kira-kira 40 kota, menjadi minimal 70 kota. Supaya memudahkan masyarakat bepergian dan membuat tourisme lebih bagus. Tourisme itu butuh satu koneksitas yang bagus. Di dalam negeri kita membangun aksesibilitas ke pinggiran. Di Kalimantan Utaratara, di Papua, di Nusa Tenggara, itu kita upayakan di kota-kota yang terpinggir, terluar itu tercapai.

3.   Terkait tol laut bagaimana bentuk kerja sama dengan pemerintah daerah setempat? Kemudian apakah sudah ada gambaran peningkatan secara ekonomi?

Gambaran peningkatan itu ada, sekarang average (rata-rata) mereka mempunyai tingkat pengurangan disparitas harga sekitar 20 persen. Satu hal yang saya ingin membuat ini lebih baik adalah tol laut bisa berkesinambungan. Jangan hanya pada saat ini saja berjalan lalu nantinya nggak ada.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved