Jumat, 10 April 2026

Wisatawan Asing Ingin Jajanan Pasar, tapi Banyak Hotel Kesulitan Cari Pembuatnya

Ternyata banyak wisatawan mancanegara menggemari jajanan pasar asli Indonesia. Namun banyak hotel mengaku kesulitan mencari pembuatnya.

Penulis: |
Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
Kelepon ubi (depan) dan bola-bola ubi. 

WARTA KOTA, KUNINGAN -- Tiap daerah di dunia ini memiliki panganan lokal yang khas. Demikian pula berbagai daerah di Indonesia.

Ternyata banyak wisatawan mancanegara menggemari jajanan pasar asli Indonesia. Namun banyak hotel mengaku kesulitan mencari pembuat kue atau pastry chef untuk memenuhi keinginan para wisatawan mancanegara akan jajanan pasar lokal.

“Kalau chef masakan banyak, tapi yang pastry kue-kue masih kurang. Karena bule-bule cari jajanan pasar lokal Indonesia ketika mengunjungi Indonesia,” ujar Chef Ucu Sawitri pada acara jumpa pers Kompetisi Blue Band Master Oleh-oleh 2017 di Suasana Restaurant - Aston Kuningan Suites, Kuningan, Jakarta Senin (25/9/2017).

Menurutnya, kue Indonesia tidak bisa digantikan oleh kue-kue sejenis dari tempat lain karena kekhasannya. Getuk lindri, misalnya.

Menurut Ucu,"Rasanya ya seperti itu. Tinggal kreativitas dan ide agar membuat getuk lindri berbeda sedikit baik kemasan atau bentuk dan topingnya".

Alumnus IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta), Jurusan Tata Boga, ini mengatakan, budaya kue-kue dan camilan di Indonesia sangat lekat dengan kebudayaan.
Bahkan di salah satu relief Candi Borobudur, ujarnya, terlihat gambar sekelompok orang sedang berkumpul dan di depannya tersaji panganan kecil.

“Ternyata kumpul-kumpul sambil disajikan kue-kue itu sudah menjadi tradisi lama orang Indonesia. Di zaman Majapahit sudah tergambar seperti itu. Sehingga panganan kecil sudah lama ada,” kata Ucu lagi.

Selain erat dengan budaya, sambungnya, panganan jajanan itu juga kental dengan filosofi masyarakatnya.

Ia lantas memberikan contoh bagaimana panganan yang terbuat dari ketan, menggambarkan keakraban dan ngobrol yang manis dan bahagia.

Tak heran, ujarnya, jajanan asli Indonesia banyak berbahan ketan di samping ketersediaan bahan (ketan) yang sudah lama tersedia di bumi Indonesia.

Setelah datang penjajah Belanda dan Jepang, panganan pun ikut tersentuh oleh kebudayaan mereka. Indonesia pun lantas mengenal penganan berbahan terigu, seperti bolu.

“Filosofi makan ketan dan biasanya ditambah gula. Ketan yang lengket menggambarkan bahwa saat berkumpul itu akan terasa lengket dan ditambah manis bahwa obrolan yang dibicarakan tentang hal yang positif dan membahagiakan,” katanya lagi.

Sumber: WartaKota
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved