Sabtu, 2 Mei 2026

VIDEO: Dengan Alat Ini, Siswa SMP Tidak Bisa Membantah Bahwa dirinya Merokok

"Saya sehari cuma tiga batang. Beli pakai uang saku saya," aku seorang siswa yang badannya gemetaran

Tayang:
Penulis: Feryanto Hadi | Editor: Ahmad Sabran

WARTA KOTA, JAKARTA- Ada kejadian menggelikan di acara penyuluhan bertajuk Ti Rock (berhenti merokok) yang digelar BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Selatan bekerja sama dengan Suku Dinas Kesehatan DKI Jakarta di SMPN 86 Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (12/9).

Puluhan siswa yang sebelumnya mengaku tidak merokok akhirnya tak berkutik di hadapan para guru setelah mereka menjalani uji Smoke Analizer.

Pada awal acara sebanyak 70 siswa mengisi semacam kuisioner mengenai data diri dan pertanyaan apakah mereka merokok atau tidak. Mayoritas siswa menulis bahwa mereka tidak pernah merokok atau bukan perokok. Mereka pun antusias menyimak penjelasan dari sejumlah narasumber yang membahas tentang bahaya merokok.

Namun wajah sebagian siswa tampak pucat ketika di sela acara secara bergiliran mereka digiring ke sebuah ruangan. Di ruangan itu, sudah bersiap sejumlah petugas yang hendak melakukan pengujian. Beberapa guru pun berada di ruangan itu.

Siswa yang tidak merokok tampak santai menjalani uji dengan Smoke Analizer. Hasilnya pun negatif dan mereka diperkenankan kembali ke ruangan penyuluhan.

Akan tetapi, sejumlah siswa lain yang sebelumnya mengaku tidak merokok tidak bisa berkata banyak setelah hasil uji menunjukkan bahwa di dalam paru-paru mereka terdapat sejumlah kadar zat monoksida. Sejumlah guru segera menanyakan berapa banyak rokok yang mereka konsumsi dan selanjutnya memberikan pembinaan agar siswa itu tidak merokok lagi.

"Saya sehari cuma tiga batang. Beli pakai uang saku saya," aku seorang siswa yang badannya gemetaran ketika seorang guru perempuan mengintrograsinya.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Selatan, dr. Sudarto KS, AAK menyatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk upaya promotif dan preventif dalam rangka menekan jumlah pelajar yang merokok.

"Dari survey yang dilakukan menunjukkan bahwa sebanyak 33 persen pelajar di Jakarta adalah perokok, dari ringan sampai berat. Ini tentunya sebuah angka yang memprihatinkan kita semua," kata dr. Sudarto ditemui di sela kegiatan.

Sejumlah langkah nyata harus dilakukan untuk menekan angka itu, kata dr. Sudarto termasuk dengan melakukan tatap muka langsung dan memberi penjelasan kepada pelajar mengenai bahaya yang ditimbulkan akibat merokok.

"Langkah pendekatan seperti ini kami kira bisa menyentuh langsung sasaran. Kami undang sejumlah narasumber untuk jelaskan dampak negatif merokok dari sejumlah aspek, baik ekonomi, sosial maupun lingkungan mereka," katanya.

Ia menyadari bahwa upaya mencegah pelajar merokok tidak bisa dilakukan secara instan. Segala bentuk upaya, menurutnya harus dilakukan secara estafet demi meningkatkan kesadaran pelajar bahwa merokok banyak menimbulkan kerugian.

BPJS Kesehatan Cabang Jakarta Selatan pun menargetkan, akan menggelar kegiatan serupa sebanyak empat kali dalam sebulan di tiap sekolah berbeda.

"Kegiatan Ti Rock ini ada episodenya. Kami nanti akan laksanakan di banyak sekolah yang melibatkan banyak pelajar. Untuk pengawasan bagi siswa yang kedapatan merokok, kami harapkan pihak sekolah juga turut berpartisipasi. Bisa nanti dilakukan pengujian Smoke Analize secara berkala untuk tahu mereka masih merokok atau tidak," ia menambahkan.

Klaim besar

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved