Citizen Journalism

Merek Premium dan Beras Naik Kelas

Lalu mengapa beras ayam jago kemudian dapat dijual dengan harga premium? Bahkan lebih tinggi dari harga beras sejenis lainnya.

Rangga Baskoro
Direktur Tertib Niaga Kementerian Perdagangan, Inayat Iman (kiri), Direktur Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Metro Jaya, Kombes Wahyu Adiningrat (tengah) dan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono (kanan), saat acara rilis pengungkapan pengecer beras di gudang sembako, Jalan Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (23/5). 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Sekali lagi tentang merek! Tanpa bermaksud berpolemik tentang penggerebekan gudang beras yang diindikasikan tidak sesuai antara data kemasan dan realitanya, termasuk meninggalkan polemik pengakuan beras premium yang ditengarai sebagai beras subsidi, maka persoalan pengelolaan merek menjadi menarik dalam membedah kasus tersebut.

Pada sebuah merek, maka asosiasi atas sebuah produk/jasa dilekatkan. Brand atau merek sendiri adalah identitas pembeda dari sebuah produk di dalam pasar. Lalu mengapa beras ayam jago kemudian dapat dijual dengan harga premium? Bahkan lebih tinggi dari harga beras sejenis lainnya.

Pertama: karena mereknya mendekatkan persepsi kualitas atas produk dengan sangat baik. Kriteria akan beras bersih, wangi bahkan pulen dapat diwakilkan oleh beras tersebut.

Performa produk kerap kali berbeda antara bahasa promosi dengan kinerja produk sesungguhnya. Namun ketika merek telah sampai pada level alam bawah sadar konsumen, maka kinerja sesungguhnya dapat diabaikan.

Kedua: dalam upaya menciptakan nilai yang dituju oleh merek beras tersebut, maka produsen membuat packaging alias kemasan sebagai daya dukung merek.

Kemasan nan menarik, dengan simbol dan tagline yang secara tampilan visual mampu membangun impresi sebagai kesan mendalam sebuah produk bagi konsumennya. Produk melakukan distorsi antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Stimulasi dan edukasi diperlukan dalam upaya membangun persepsi kualitas, hal tersebut adalah proses yang dilakukan merek dalam upaya memperkuat nilai yang dimilikinya.

Ketiga: saluran distribusi, mekanisme pemenuhan kanal penyaluran produk dilakukan baik pada pasar modern ataupun tradisional. Meski respon pada traditional market dianggap tidak terlalu bagus, maka penjualan terbesar mungkin diperoleh pada modern market. Pertumbuhan pada segmen pasar modern, sejalan dengan pertambahan lapisan kelas menengah di dalam negeri, sehingga memungkinkan volume penjualan meningkat.

Keempat: penetapan premium price adalah langkah yang tepat untuk meningkatkan asosiasi merek akan kualitas produk. Kemampuan strategi dalam penentuan harga tentu didasarkan atas pencermatan pada lapis sasaran konsumen yang menjadi target pasar. Karena lapis dasar asumsi pembelian adalah harga yang mahal identik dengan kualitas.

Kelima: perusahaan memastikan keunggulan proses pengolahan gabah menjadi beras terbaik dengan metode yang mumpuni secara teknologi sehingga terlihat menjadi sebuah produk yang mampu menampilkan kualitas terbaik bagi pelanggan.

Keenam: langkah lincah perusahaan dalam mendapatkan pasokan bahan baku bagi produksi berkelanjutan adalah sebuah strategi di bagian hulu produksi yang menjamin keberlangsungan proses bisnis.

Di era ini, kecepatan dan kelincahan adalah model dari bentuk adaptasi bisnis secara dinamis. Padahal pada sisi lain, institusi pengatur bahan pangan nasional justru merasa kesulitan dalam mendapatkan sumber bahan baku, mungkin karena lapisan birokrasinya.

Studi kasus ini menarik, terlebih bila kita melihat disparitas harga pembelian bahan baku hingga harga jual ke konsumen yang demikian lebarnya. Problem utama yang terjadi, kerap kali disinsentif harga beli petani menimbulkan keengganan untuk masuk ke sektor yang sesungguhnya vital dalam ketahanan kehidupan berbangsa.

Pangan adalah hajat hidup masyarakat, pada teori tentang kebutuhan dasar manusia, maka faktor pemenuhan kebutuhan fisik adalah hal elementer yang tidak dapat digantikan lagi.

Jadi apa yang dapat kita pelajari dari fenomena ini? Terutama bagi aspek ketahanan pangan dan mendorong simulasi keinginan untuk masuk kembali ke sektor agraris pertanian? Dengan metode yang serupa institusi ketahanan pangan nasional, dapat belajar untuk mendorong pasokan yang cukup dengan harga beli yang baik, termasuk membuat subsidi silang revenue bagi produk inovatif sehingga mampu naik kelas.

Meski demikian, keseluruhan proses dapat diduplikasi terkecuali aspek manipulasi yang tidak patut untuk ditiru, semisal menampilkan daftar kandungan yang tidak sesuai fakta, namun strategi beras ayam jago secara keseluruhan patutlah diujicobakan.

Yudhi Hertanto, Mahasiswa Pascasarjana Kalbis Institute.
Yudhi Hertanto.  ()

Yudhi Hertanto, Ketua Yayasan Akademi Keperawatan Berkala Widya Husada

Sumber: WartaKota
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved