Malangnya Rifa Yazisa Ditolak Sekolah Hanya Karena Menderita CDA
Muhamad Isnaini menuturkan anak semata wayangnya tersebut, tidak diterima di sekolah tersebut dengan alasan khawatir merepotkan pihak sekolah.
WARTA KOTA, PESANGGRAHAN -- Rifa Yazisa Rahmania meninggalkan Sekolah Menegah Pertama (SMP) Putera Satria, Petukangan Utara, Jakarta Selatan, sembari menangis, Jumat (21/7/2017).
Remaja 13 tahun tersebut baru saja mengalami kejadian pahit, yakni ditolak di sekolah yang seharusnya menjadi tempat mengenyam pendidikan selama tiga tahun ke depan.
Ayahnya, Muhamad Isnaini, kepada Warta Kota, menuturkan, anak semata wayangnya tersebut, tidak diterima di sekolah tersebut dengan alasan khawatir merepotkan pihak sekolah.
"Padahal administrasi dan uang bangunan sebesar Rp 1.090.000 sudah lunas, tapi mereka menolak anak saya dengan alasan tegas, merepotkan pihak sekolah," kata Isnaini saat bercerita kepada Warta Kota, Rabu (26/7/2017).
Isnanini menuturkan, anaknya menderita penyakit Congenital Dyserithropoietic Anemia atau minimnya asupan sel darah merah sejak usia tiga bulan, sehingga membutuhkan transfusi darah rutin setiap dua bulan.
Akibat penyakit tersebut pula, kata dia, sejak usia 9 tahun, Rifa mengalami aseptic necrosis, yang membuat tulang kaki menjadi rapuh.
"Secara kognitif anak saya mampu menyerap pelajaran secara normal, hanya untuk kegiatan yang melibatkan fisik saja yang berkurang," kata dia.
Misalnya, tidak bisa mengikuti upacara, pelajaran olah raga, kegiatan pramuka atau naik tangga.
Hal ini juga yang membuat dirinya memilih SMP Putera Satria untuk melanjutkan pendidikan anaknya, lantaran, kelas untuk angkatan pertama berada di lantai dasar.
Di samping itu, lokasi sekolah berada dekat dengan Kampus Universitas Budi Luhur dimana dirinya mengajar sebagai dosen.
Saat bertemu dengan Kepala Sekolah SMP Satria, Isnaini mengaku tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan kondisi anaknya.
Secara spontan, kata dia, anaknya tidak diperkenankan untuk sekolah di sini.
"Sehari sebelumnya saya sudah memberi tahu kondisi anak saya ke pihak tata usaha, mereka menerima dan dipersilahkan untuk mendaftar, tapi saat hari pendaftaran, kepala sekolah menolak, bahkan tidak ada itikad untuk mendengarkan penjelasan terlebih dahulu," kata dia.
Kendati demikian, kata dia, pihak sekolah sempat mengajaknya diskusi untuk mencari solusi terbaik, namun, diriya terlanjur memutuskan jika apa pun yang solusi yang dibuat, anaknya tetap ditolak di sekolah ini.
Selepas dari penolakan di SMP Putera Satria, Isnaini tidak patah semangat, dirinya meneruskan pencarian sekolah lain agar anaknya tetap bisa bersekolah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20170726-smp-putra-satria-petukangan-utara-jakarta-selatan_20170726_180939.jpg)