Mendikbud: Bukan Full Day School tapi Penguatan Pendidikan Karakter

Menurutnya Pendidikan Karakter tidak terus-terusan berada di dalam kelas melainkan pada kehidupan sehari-hari, seperti membantu usaha orang tua.

Editor: Murtopo
KOMPAS.com/FABIANUS JANUARIUS KUWADO
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. 

Laporan wartawan wartakotalive.com, Alija Berlian Fani

WARTA KOTA, KEBAYORAN LAMA -- Maraknya isu mengenai akan diterapkannya sistem pendidikan Full Day School ternyata dibantahkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendi.

"Bukan Full Day School tapi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Guna menunaikan Nawacita," ujarnya di Gedung A Kemendikbud, Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (12/7/2017).

Dalam presentasinya mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu memaparkan PPK terbagi menjadi dua yaitu Pendidikan Keilmuan atau Akademik dan Pendidikan Karakter.

Pendidikan Karakter pada tingkat Sekolah Dasar (SD) sangatlah diprioritaskan dengan persentase sebesar 70 persen dan 30 persen untuk akademik.

Untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) Pendidikan Karakter sebesar 60 persen dan Pendidikan Keilmuan sebesar 50 persen.

"Gerakan penguatan pendidikan karakter sebagai fondasi dan ruh utama pendidikan. Ada lima nilai utama yang memperkuat karakter. Kelima nilai tersebut adalah Religius, Nasionalis, Mandiri, Gotong Royong, dan Integritas," ungkapnya.

Menurutnya Pendidikan Karakter tidak terus-terusan berada di dalam kelas melainkan pada kehidupan sehari-hari, seperti membantu usaha orang tua dan mengaji.

Siswa pun akan melakukan aktivitas belajar selama lima hari di sekolah dan dua hari di rumah, di mana orangtua mempunyai kesempatan mengajak anak menikmati kekayaan budaya dan alam Indonesia.

Kehadiran PPK dapat memperkuat kurikulum 2013 yang sudah memuat Pendidikan Karakter dan dalam penerapannya dilakukan modifikasi intrakulikuler ditambah dengan kokurikuler dan ekstrakurikuler.

"Integritas ketiganya diharapkan dapat menumbuhkan budi pekerti dan menguatkan karakter positif dari anak didik. Ekosistem pendidikan sendiri bukan hanya di sekolah tapi di keluarga dan masyarakat," lanjutnya.

Ia menambahkan nantinya dengan PPK, sekolah akan menjadi sentral dan lingkungan disekitar menjadi sumber-sumber belajar.

"Pendidikan karakter adalah gerakan kita bersama, gerakan semua elemen masyarakat yang peduli terhadap pendidikan di Indonesia. Generasi cerdas berkarakter, kekuatan Indonesia," ungkapnya.

Sistem penilaianpun tidak hanya mencatat nilai yang berupa angka-angka dari intrakurikuler saja, namun akan ada catatan kepribadian atau karakter anak.

"Di abad ke-21 anak Indonesia harus memiliki keterampilan berpikir kritis dan analitis, kreatif dan inovatif, kolaboratif, dan komunikatif. Program PPK akan mulai diterapkan pada 4.114 sekolah," ungkapnya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved