Selasa, 14 April 2026

Pedagang Emas Kaki Lima Sepi dari Kegiatan Transaksi Jual Beli

Dulu, di Jalan Senen Raya itu penuh pedagang dan menjadi salah satu sentra jual beli emas kaki lima di Jakarta.

Penulis: |
Warta Kota/Ichwan Chasani
Hei Siagian dan lapak jual beli emas miliknya yang sepi transaksi jual beli. 

WARTA KOTA, SENEN -- Pedagang emas kaki lima di Jalan Senen Raya, Jakarta Pusat sepi dari transaksi jual beli.

Sebagian dari mereka kini sudah tutup lapak atau berganti profesi lain untuk menyambung hidup.

M. Sinambela, salah pedagang emas kaki lima yang masih bertahan mengatakan bahwa jumlah pedagang di Jalan Senen Raya kini sudah banyak berkurang.

Dulu, di Jalan Senen Raya itu penuh pedagang dan menjadi salah satu sentra jual beli emas kaki lima di Jakarta, selain di Pasar Rumput, Pasar Jatinegara, dan di Kota.

"Dulu, pedagangnya sampai puluhan orang, sekarang bisa dihitung jari tangan. Sudah banyak yang nggak mampu, kondisi zamannya sudah beda," tutur lelaki kelahiran 1957 itu.

Sinambela adalah salah satu pedagang emas kaki lima terlama di Jalan Senen Raya.

Dia merantau selepas taman SMA di Medan dan berdagang di dekat Pegadaian Kantor Wilayah IX, Senen itu, sejak 1976.

Kini, banyak rekannya sesama pedagang emas kaki lima yang sudah ganti profesi atau pulang kampung karena sepinya transaksi.

"Di sini mah sepi. Kadang sampai tiga bulan nggak ada jual beli," sambungnya.

Menurut Sinambela, sepinya transaksi dirasakannya setelah ramai-ramainya reformasi 1998. Sejak saat itu, harga emas melonjak drastis.

Dia membandingkan, sebelum era 1998, dalam sebulan dirinya bisa mendapatkan 10 gram emas bersih.

"Sekarang, emas itu hanya kalangan menengah ke atas yang mampu beli. Orang kebanyakan sudah nggak mampu lagi," lanjut Sinambela.

Pedagang emas kaki lima biasanya menerima jual beli perhiasan emas yang sudah tidak sempurna misalnya anting-anting cuma sebelah, atau perhiasan yang sudah hilang surat-suratnya.

Perhiasan emas yang dibeli pedagang di bawah harga pasar itu kemudian dilebur lagi untuk dijadikan perhiasan baru.

Untuk menutupi kebutuhan akibat sepinya transaksi jual beli emas itu, Sinambela juga berjualan mata uang asing.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved