Minggu, 26 April 2026

Anton Medan Berbagi Pengalaman dengan Ratusan Napi dan Tahanan di Rutan Cilodong

Dalam ceramahnya Anton Medan, meminta para narapidana dan tahanan lebih rajin beribadah, memohon ampunan kepada Tuhan di bulan Ramadan ini.

Penulis: Budi Sam Law Malau |
Warta Kota/Budi Sam Law Malau
Dai Anton Medan memberikan ceramah ke ratusan napi dan tahanan di Rutan Cilodong, Depok. 

WARTA KOTA, DEPOK -- Mantan narapidana yang kini menjadi seorang dai, Anton Medan, berbagi pengalaman dan memberikan ceramah di depan ratusan narapidana dan tahanan di Rumah Tahanan (Rutan) Klas II B Cilodong, Depok, usai shalat tarawih, Minggu (11/6/2017) malam.

Dalam ceramahnya Anton Medan, meminta para narapidana dan tahanan lebih rajin beribadah, memohon ampunan kepada Tuhan di bulan Ramadan ini.

"Allah itu maha pengampun bagi hambanya yang bertaubat. Agama itu harus jadi pedoman hidup, jangan hanya jadi pegangan hidup. Kalau hanya jadi pegangan, usai Ramadhan ya, selesai," kata Anton di depan ratusan napi dan tahanan.

Dai Anton Medan memberikan ceramah ke ratusan napi dan tahanan di Rutan Cilodong, Depok.
Dai Anton Medan memberikan ceramah ke ratusan napi dan tahanan di Rutan Cilodong, Depok. (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

Ia juga menceritakan bagaimana dirinya keluar masuk penjara selama 18 kali dari beberapa kasus kriminal.

"Narapidana harus dapat mengambil hikmah dari perngalaman pahit dan bersyukur dapat masuk penjara dari pada bernasib lebih buruk. Bila dapat bersyukur dan sadar, sehari di penjara, lebih baik daripada sebulan di luar. Sebab di penjara punya waktu banyak dan fokus mendalami ilmu dunia dan akhirat," beber Anton.

Menurutnya banyak dari tokoh dunia yang cemerlang dan dapat membuat karya istimewa ketika berada dalam penjara. Diantaranya kata dia, Buya Hamka menulis tafsir al-Quran di penjara, lalu Nelson Mandela, dan Xanana Gusmoa.

Bahkan katanya Nelson Mandela dan Xanana Gusmao berhasil menjadi Presiden Afrika Selatan dan Presiden Timor Leste, setelah bebas dari penjara.

Anton, juga menganjurkan narapidana di Rutan Cilodong mendalami ilmu agama, sekolah paket A, B, C dan Universitas Terbuka yang programnya sudah disediakan.

"Gunakanlah kesempatan di rutan ini sebaik mungkin, bersyukur dan memperbaiki diri. Karena orang bersyukurlah yang dapat menjadi orang sadar dan sukses. Saya ini tidak pernah bangga dengan pernah masuk penjara. Tapi di penjaralah saya membutuhkan agama dan belajar tentang kehidupan yang lebih baik," kata Anton.

Dai Anton Medan memberikan ceramah ke ratusan napi dan tahanan di Rutan Cilodong, Depok.
Dai Anton Medan memberikan ceramah ke ratusan napi dan tahanan di Rutan Cilodong, Depok. (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)

Ia mengatakan Rutan atau LP saat ini sudah sangat memanusiakan narapidana. Banyak kegiatan yang positif yang dapat diikuti. "Bila selama jalani penghukuman berperilaku baik maka, akan mendapat banyak pembinaan dan pengurangan masa hukuman," katanya.

Anton juga menceritakan bagaimana dirinya menjadi napi teladan saat dipenjara.

"Semua peraturan dan arahan sipir saya patuhi. Kalian juga harus demikian," kata Anton yang juga Ketua Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) ini.

Anton, menuturkan Islam itu menghapus diskriminasi dan toleran atas perbedaan. "Saling menghargai walau kita berbeda suku dan bangsa. Kita dituntun juga untuk menghormati umat agama lain. Walau saya orang Cina, saya juga saudara seiman dengan kalian semua," katanya.

Yang terpenting kata dia, dalah iman dan taqwa kita kepada Allah karena yang membuat kita berbeda-beda adalah Allah.

Kepala Rutan Kelas II B Cilodong, Kota Depok Shohibur Rachman, mengatakan yang dilakukannya dengan menghadirkan Anton Medan, merupakan bentuk pembinaan mental kepada para napi.

Dai Anton Medan di Rutan Cilodong, Depok.
Dai Anton Medan di Rutan Cilodong, Depok. (Warta Kota/Budi Sam Law Malau)
Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved