Minggu, 10 Mei 2026

Bulan Ramadhan Jadi Saat Lebarannya Timun Suri

Biar murah, putaran uangnya cepet, jadi balik modal cepat juga. Bisa dibilang bulan puasa itu Lebarannya timun suri.

Tayang:
Warta Kota/Dwi Rizki
Banjir timun suri di sejumlah kawasan di DKI Jakarta. 

WARTA KOTA, KRAMATJATI -- Berbentuk bulat dengan warna kuning cerah, siapa yang tidak mengenal timun suri. Tekstur buah yang lembut serta rasa segar bercampur dengan sirup, timun suri memang menjadi salah satu minuman yang pas untuk berbuka puasa.

Mengulangi bulan puasa tahun sebelumnya, keberadaan timun suri memang mudah ditemui di sejumlah pelosok ibu kota saat ini.

Bukan hanya pasar tradisional, pusat perbelanjaan modern hingga pedagang kaki lima (PKL) buah kini menjajakan timun suri sebagai komoditas utamanya.

Permintaan yang tinggi serta pasokan yang berlimpah pada pekan pertama bulan Ramadhan membuat sejumlah wilayah kebanjiran timun suri, termasuk Jalan Raya Bogor, tepatnya Pasar Induk Kramatjati hingga simpang flyover Pasar Rebo, Jakarta Timur saat ini, Selasa (30/5/2017).

Puluhan lapak pedagang buah terlihat memenuhi sisi Jalan Raya Bogor, baik dari arah simpang Hek, Ciracas menuju Pasar Rebo maupun sebaliknya. Mereka terlihat kompak menjual timun suri, baik menggunakan mobil bak terbuka ataupun gelaran lapak terpal.

Idris (45) salah satu pedagang timun suri menyampaikan, alasan pedagang menjual timun suri sepanjang bulan Ramadhan memang sudah menjadi kebiasaan.

Pilihan untuk berjualan di sisi jalan pun sengaja dipilihnya lantaran ramai pembeli yang datang.

Sebab, walau timun suri diakuinya memiliki harga jual yang murah, penjualan timun suri kini lebih baik dibandingkan sejumlah buah impor yang biasa dijualnya.

Berbanding terbalik dengan hari biasa, bulan puasa justru diibaratkan para pedagang sebagai lebarannya timun suri.

"Stok lagi luber (berlimpah), makanya banyak yang coba (jual) timun suri. Biar murah, puterannya cepet, jadi balik modal cepet juga. Ya kalau kita bilang sih bulan puasa itu Lebarannya timun suri," ungkap pemilik lapak buah impor di dalam Pasar Induk Kramatjati itu sumringah.

Keterangannya memang terbukti benar, sebuah timun suri berukuran 30 cm dengan diameter 15 cm dijualnya seharga Rp 5.000 per buah.

Sedangkan, timun suri berukuran besar atau sepanjang 40 cm dengan diameter 20 cm dijualnya seharga Rp 10.000 per buah.

"Harganya murah-murah, kalau dibandingin sama Carrefour mah jauh, mending beli di sini, murah-cepet, tinggal berhenti, langsung beli," ungkap Ayu (26) warga Kampung Tipar, Ciracas, Jakarta Timur yang segera berlalu usai membeli dua buah timun suri di lapak Idris.

Kemudahan yang ditawarkan puluhan pedagang timun suri memang tidak tanpa resiko. Keberadaannya yang berada di sisi jalan dan atas trotoar secara langsung menyebabkan kemacetan lalulintas, khususnya jam padat pulang kerja sore hari.

Pasalnya, bukan hanya mobil bak terbuka ataupun lapak terpal yang mengurangi satu dari tiga lajur jalan, parkir kendaraan pembeli ataupun pejalan kaki yang memaksakan berjalan melewati lapak hingga ke tengah jalan menyebabkan kemacetan.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved