Travel
Mengapa Hingga Kini Masyarakat Suku Tengger Suka Menggunakan Sarung?
Kebanyakan warga baik tua-muda, laki-perempuan, memakai sarung. Itulah kesan yang tertangkap mata saat memandang setiap sudut Desa Argosari, Lumajang.
"Dulu penggunaan sarung lebih ke fungsi. Tak ada aturan itu yang melarang gak pakai sarung. Keluar wilayah Tengger gak pake sarung gak apa-apa. Seperti kebiasaan merokok, tak merokok tak enak. Saya pun sama. Ketika kemana-mana gak pake sarung, itu kelihatan gak pantas. Kalau pakai sarung kan bisa gaya macam-macam. Seperti pelampiasan saja," jawabnya sambil tertawa dan mencontohkan memakai sarung.
"Sampai sekarang akhirnya adat bikin peraturan yang tak tertulis kalau ada acara adat itu wajib pakai ikat kepala dan sarung itu sudah. Kalau gak pakai sarung tetep diperbincangkan," tambah Budiyanto.
Budaya memakai sarung ini sendiri ada sejak Suku Tengger hadir. Budiyanto mengatakan zaman dahulu bukan sarung yang digunakan oleh Suku Tengger melainkan hanya kain.
Saat ini, budaya memakai sarung tetap dilestarikan di Desa Argosari. Salah satunya dengan cara mengajarkan kebiasaan menggunakan sarung.
"Misalnya punya anak, otomatis saya belikan sarung walaupun masih kecil. Sampai saya pesan ukuran yang kecil. Jadi gak melalui kata-kata mengajarkan memakai sarung. Lewat kebiasaan langsung," ujarnya.
Desa Argosari sendiri adalah salah satu tempat tinggal masyarakat Suku Tengger. Tempat Suku Tengger bermukim lainnya antara lain Probolinggo dan Pasuruan. (Wahyu Adityo Prodjo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/sarung-tengger_20170516_065950.jpg)