Breaking News:

Harapan Membuncah Pedagang dan Warga adalah Kebakaran Pasar Senen Tidak Terulang

Pada umumnya pedagang menyatakan harapannya agar kebakaran tak lagi terjadi di kompleks Pasar Senen.‎

Warta Kota/Rangga Baskoro
Lokasi perdagangan di Pasar Senen diharapkan dapat segera digunakan. 
WARTA KOTA, SENEN -- Peristiwa kebakaran di Pasar Senen kerap menyebabkan banyak pedagang harus direlokasi di tempat penampungan sementara (TPS) yang notabene sempit.
Mereka terpaksa berpindah tempat karena tak ada lagi pilihan selain berpindah tempat berdagang dari kawasan Pasar Senen atau menerima lokasi TPS.‎
Menanggapi hal tersebut, Endaria (40) seorang pedagang bumbu makanan di TPS Blok III Pasar Senen menyatakan harapannya agar kebakaran tak lagi terjadi di kompleks Pasar Senen.‎
"Capek pindah-pindah terus, kalau hanya berbulan-bulan sih gak masalah. Tapi biasanya kalau pindah kan lama ya, saya saja sudah 3 tahun di TPS (Blok III) ini," ujar Endaria di lokasi, Sabtu (13/5).‎
Sebelum Blok III Pasar Senen terbakar pada 25 April 2014 lalu, luasan kios yang dimiliki Endaria sebesar 7x4 meter.
Namun, di TPS Blok III, dirinya hanya menempati lapak seluas 2 X 2 meter lantaran harus berbagi area bersama pedagang lain.‎
Ia menyatakan, juga mendapatkan kios yang sama lebarnya di Blok III Pasar Senen yang kemungkinan bisa ditempatinya pada bulan Juli mendatang. Endaria kembali harus membayar sewa untuk kios tersebut meski dirinya sudah melunasi biaya sewa di kiosnya yang lama dengan sistem hak pakai selama 20 tahun.‎
"Kalau kebakaran terus kami kan jadi bayar lagi. Di gedung baru, 1 meternya harus bayar Rp50 juta, ditambah PPn sebesar Rp20 juta. Jadi total saya harus bayar Rp220 juta. Hak pakai 20 tahun. Sebelum masuk, kami harus melunasi sekitar 20 persennya. Banyak juga teman-teman pedagang yang sudah lunas," ucapnya.‎
Kebakaran yang terjadi di Blok I dan II pada 19 Januari 2017 lalu, sempat menyebabkan sejumlah pedagang di area Blok III khawatir. Pasalnya, api tak kunjung padam selama 3 hari dan dikhawatirkan merembet ke area TPS Blok III yang berada tepat disebelahnya.‎
"Saya kan jual kain-kain tekstil (di Blok III). Dari hari pertama pas kebakaran, sudah evakuasi barang-barang. Karena besar sekali apinya," ujar Tono (52), pedagang kain tekstil, di Blok III Pasar Senen.‎
Terlebih lagi, pasca kebakaran, listrik tidak diperbolehkan untuk dialirkan lantaran dikhawatirkan, kegiatan itu akan kembali memicu kebakaran.
Pedagang di Blok III juga kena imbasnya, hal itu menyebabkan mereka terpaksa berjualan tanpa penerangan.‎
"Mati lampu lebih dari 3 hari. Ya kami jadinya gelap-gelapan. Sengsara deh kalau sudah kebakaran," katanya.‎
Untuk itu, ia mengharapkan agar pihak pengelola menyediakan fasilitas alat pemadam kebakaran sementara di sekitar area gedung baru di Blok III Pasar Senen agar kejadian yang serupa tidak terulang kembali.‎
Sejak area Pasar Senen dibangun pada tahun 1960-an, terhitung peristiwa kebakaran sudah terjadi sebanyak 8 kali.
Kebakaran pertama terjadi pada tanggal 15 Januari 1974 lantaran aksi kerusuhan.
Setelah hampir 20 tahun, kebakaran kembali menghanguskan Blok IV dan V pada 23 November 1996.‎‎
Lalu, pada tanggal 26 Januari dan 23 Mei 2003, area Blok VI dan IV kembali terbakar. Kemudian pada tanggal 27 Oktober 2008 dan 1 Maret 2010, api lagi-lagi menghanguskan kios pedagang.‎
Salah satu yang terbesar adalah kebakaran Blok III yang terjadi pada 25 April 2014.
Selama 20 jam, api berhasil menghanguskan sebanyak lebih dari 3000 kios pedagang. Pembangunan gedung baru memakan waktu selama kurang lebih 3 tahun.‎
Kemudian, pada tanggal 17 Januari, giliran area di Blok VI yang terbakar. Dua hari berselang, kebakaran yang tak kalah dasyat menghanguskan Blok I dan II.
Tim pemadam kebakaran baru bisa menjinakkan api setelah 3 hari dengan mengerahkan sebanyak 54 unit mobil damkar.  (Rangga Baskoro)
Editor: Gede Moenanto
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved