Jumat, 10 April 2026

VIDEO: Kesadaran Warga Rendah, Djunaedi Kesulitan Menata Parkiran

Adanya mesin parkir meter seharusnya mempermudah para juru parkir dalam bertugas. "Tapi kenyataannya di lapangan, kita yang narik terus nginput data,"

YouTube
Juru parkir UPT Perparkiran DKI Jakarta, Djunaedi saat mengatur kendaraan parkir di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Kamis (4/5). 

WARTA KOTA, KEBAYORAN BARU -- Lebih dari enam jam bertugas, juru parkir UPT Perparkiran DKI Jakarta, Djunaedi masih terpaku di depan mesin parkir meter di Jalan Trunojoyo, tepatnya depan Kantor Cabang Bank Central Asia (BCA).

Sesekali, matanya melirik catatan kecil yang digenggamnya dan kembali menginput plat nomor kendaraan yang masuk ke lahan parkirnya.

Rutinitas yang sudah dijalaninya dua tahun belakangan, terhitung sejak mesin parkir meter dipasang pada pertengahan tahun 2015 itu memang menjadi salah satu tanggung jawabnya.

Walaupun diketahuinya, adanya mesin parkir meter seharusnya mempermudah para juru parkir dalam bertugas.

"Seharusnya kan begitu, masyarakat yang seharusnya bayar parkirnya sendiri, kita (juru parkir) cuma ngatur sama ngawasin. Tapi kenyataannya di lapangan, kita yang narik terus nginput (memasukkan) data," ungkapnya sembari menunjukan buku catatan kecilnya berisi plat nomor kendaraan.

Selain kerepotan mendata kendaraan yang parkir, terlebih dengan kondisi mesin yang sudah mulai rusak, Warga Kemang, Mampang, Jakarta Selatan itu kerap kesulitan menarik retribusi dari pemilik kendaraan.

Akibatnya, banyak pemilik kendaraan yang dianggapnya melarikan diri karena tidak terawasi ketika meninggalkan area parkir.

Tercatat, lanjutnya, ada lebih dari 20 unit sepeda motor dan satu unit mobil yang biaya parkirnya tidak tertagih hingga pukul 15.00 WIB.

Tak ayal, dirinya pun harus membayar sendiri seluruh tagihan kendaraan tersebut, termasuk beberapa data kendaraan yang terinput ganda.

"Jadi ya saya talangin semua, soalnya kan udah ke Input-kecetak struknya. Jadi saya memang kadang kesel, kenapa masih banyak orang yang nggak disiplin, padahal kan parkir buat (kendaraan) mereka sendiri," kesalnya.

Namun dirinya tidak dapat berbuat banyak, karena menurutnya sosialisasi penerapan mesin parkir meter belum banyak dilakukan.

Akibatnya, banyak masyarakat yang belum mengerti dan akhirnya manja hingga tidak disiplin membayar tagihan parkir.

" Kalau rencananya mau disempurnain pake aplikasi-lewat handphone itu bagus, asalkan sosialisasinya dikencengin (dilakukan masif), jadi orang-orang pada tahu, apalagi katanya bisa gabung sama mesin parkir meter, orang juga bisa lihat parkiran kosong segala," ungkapnya menanggapi usulan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Salahudin Uno yang mengusulkan penataan parkir berbasis aplikasi.

Penataan

Penataan parkir on street lewat parkir meter terbukti mengurangi kemacetan akibat penumpukan kendaraan.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved