Citizen Journalism

Akhir Kisah Pilkada: Ikhlas dan Rendah Hati!

Jakarta adalah miniatur Indonesia. Itulah sebab, mengapa Pilkada DKI paling mendapat tempat di media cetak dan elektronik.

Kompas.com
Tiga calon pasangan pada Pilkada DKI Jakarta. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak benar-benar menyedot seluruh sendi kehidupan bangsa ini.

Saat Pilkada putaran pertama 15 Februari 2017 digelar, kendati hanya 101 daerah yang menjadi peserta Pilkada serentak, dari persiapan, masa kampanye hingga sampai pemungutan suara, tidak ada habisnya berbagai media cetak dan elektronik menyiarkan hal-hal yang justru memicu bahaya perpecahan bangsa ini.

Isu sara, suku, agama, hingga pertengkaran antara teman, sahabat, bahkan di dalam keluarga, menjadi bumbu yang senantiasa menyulut sikap intoleransi dan disintegrasi.

Daerah yang paling berperan dan menjadi sumber pemberitaan nasional bahkan mancanegara, menyedot seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara adalah provinsi DKI Jakarta.

Hebatnya, tidak cukup berhenti di putaran pertama, ternyata Pilkada DKI harus berlanjut ke putaran kedua. Mengapa DKI menjadi sorotan nasional bahkan mancanegara dalam kasus Pilkada ini?

Seluruh suku dan budaya Indonesia ada di dalamnya. Boleh dikatakan juga bahwa kota ini adalah satu-satunya provinisi di Indonesia yang paling bhineka.

Yah, Jakarta adalah miniatur Indonesia. Itulah sebab, mengapa Pilkada DKI paling mendapat tempat di media cetak dan elektronik.

Sebenarnya isu negatif tentang Pilkada yang membuat haru biru pikiran dan hati seluruh bangsa ini terjadi hampir di seluruh daerah Indonesia. Isu tersebut lekat dengan praktik-praktik kecurangan yang dilakukan oleh kontestan maupun tim suksesnya dengan modus operandi bentuk kampanye hitam, bagi-bagi sembako, politik uang, KTP ganda, hingga permainan yang melibatkan oknum Komisi Pemilihan Umum (KPU) daerah hingga pemerintahan.

Semua itu dilakukan dengan tujuan memenangkan dan menyukseskan satu pasangan calon (paslon) dengan intrik, taktik, hingga penyutradaraannya.

Akankah Pilkada putaran kedua DKI pada 19 April 2017 membawa akhir sejuk khususnya bagi warga Jakarta dan umumnya untuk Indonesia?

Kita sudah melihat begitu banyak ragam sikap pongah di Pilkada daerah lain karena paslonnya menang. Ada pula yang secara jantan mengakui kekalahan dengan lapang dada.

Banyak juga yang akhirnya mempertanyakan hasil perhitungan karena menganggap ada kecurangan.

Semua ini terjadi karena semua tim sukses pemenangan paslon telah mengeluarkan banyak anggaran selama persiapan, kampanye hingga hari pencoblosan.

Bagaimana akhir Pilkada DKI tanggal 19 April? Apakah paslon Ahok-Djarot dan tim suksesnya siap menang dan amanah, juga siap kalah dan legowo?

Setali tiga uang, apakah Anies-Sandi juga siap menang dan amanah, lalu siap kalah dan rendah hati?

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved