Citizen Journalism

Menggumuli Sastra, Anda Berbudi!

Apa yang sekarang tidak dijadikan komoditi konflik di Indonesia? Terlebih saat sekarang sedang berlangsung pilkada.

Warta Kota/Dwi Rizki
Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Salahudin Uno didampingi Kanit Reskrim Polsek Tanah Abang, Kompol Mustaqim memberi keterangan kepada wartawan di Mapolsek Tanah Abang pada Jumat (17/3) siang. 

WARTA KOTA, PALMERAH -- Apa yang sekarang tidak dijadikan komoditi konflik di Indonesia? Terlebih saat sekarang sedang berlangsung pilkada.

Jangankan orang-orang yang belum mengenyam bangku pendidikan, manusia-manusia Indonesia yang terdidik dan golongan menengah ke atas hingga kaum elit pun justru menjadi pelaku utama pemicu konflik.

Sudah terbukti, media sosial, kini juga menjadi kendaraan ampuh untuk memicu konflik.

Padahal bagi yang memahami mengapa konflik tersebut senantiasa digelontorkan, visi-misi dan tujuannya adalah demi memenangkan kolompok atau golongannya.

Konflik sengaja dicipta sebagai bagian dari skenario yang disebut taktik dan intrik.

Lalu, taktik dan intrik inilah yang menjadi aktor utama dalam rangka membangun opini pembenaran, justifikasi dalam rangka memenangkan kelompok atau golongannya.

Sungguh luar biasa, sutradara-sutradara di balik manajemen konflik melalui pintu-pintu taktik dan intrik ini. Akibatnya, menggaung kata-kata disintegrasi dan intoleransi bangsa.

Aktor-aktor panggung politik di Indonesia dalam menciptkan skenario lalu menyutradarai dalam kehidupan nyata seolah sedang memainkan drama dalam panggung teater.

Mereka adalah orang-orang berbudi yang kental menggumuli sastra, maka sangat piawai menentukan indikator sebab/masalah yang dapat segara menjadi konflik dan akibat. Sayangnya, manis budi pekerti mereka disalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan golongannya.

Siapa pelaku yang menciptakan dan membangun masalah kemudian mencuat menjadi konfilk? Apakah konflik yang tercipta lalu segera diselesiakan hingga tidak terjadi akibat dan korban?

Faktanya, pelaku-pelaku yang menciptakan dan membangun masalah lalu ditingkatkan agar berkonflik kemudian memiliki akibat dan dampak, terus bergerilya mencari mangsa. Ironisnya, pihak-pihak yang sewajibnya menjadi penengah atau penyelesai konflik, justru turut ambil bagian dalam taktik dan intrik ini.

Wahai anak bangsa, sadar dan mengertilah, bahwa suasana dan situasi Indonesia dewasa ini memang diskenariokan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan untuk memenangkan kelompok dan golongannya dengan mengorbankan toleransi yang dapat berdampak pada disintegrasi bangsa. Jadi hal terbaik yang harus disikapi adalah alangkah indah dan bijaknya bila seluruh masyarakat dan bangsa ini memahami hakikat apa itu masalah/sebab, konflik dan akibat.

Sayangnya, masyarakat kita sangat kurang menggumuli sastra dengan membaca novel dan mengapresasi (menonton drama) yang lekat dengan unsur masalah/sebab, konflik dan akibat.

Padahal, bila masyarakat kita tidak kering dari dunia sastra, maka masyarakat akan mudah memahami hakikat masalah/sebab, konflik, dan akibat, karenanya setiap individu masyarakat akan dapat menjadi pemutus mata rantai intoleransi.

Dengan menjadi pemutus mata rantai konflik, maka akibat-akibat yang sedianya akan terjadi akibat dari konflik maka tidak akan muncul.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved