Ada Festival Jaranan Buto di Banyuwangi
Di Banyuwangi ada festival Jaranan Buto yang sangat menarik sekaligus magis.
"Klimaksnya para penari yang mentas bisa sampai kesurupan dan asik untuk ditonton," katanya.
Bramuda menambahkan Unsur magis kesurupan memang kerap malah menjadi atraksi yang ditunggu-tunggu pengunjung.
Saat kesurupan penari tersebut tidak sadar dan akan mengejar orang yang menggodanya dengan siulan.
Bahkan saking agresif dan kegilaanya penari yang sudah dalam keadaan tak sadarkan diri tersebut mampu memakan kaca, api, ayam hidup dengan mengigit kepalanya hingga ayam tersebut mati.
"Tidak hanya para penari saja yang bisa kesurupan, bahkan para penonton yang berada di sekitar lokasi tak jarang terkena juga. Jadi sangat unik,” katanya berpromosi.
Tetapi jangan panik! dalam kesenian masyarakat paling timur ujung Jawa ini, telah dikendalikan pawang yang bertanggung jawab untuk menyadarkan kembali para penari atau penonton yang ikut kesurupan.
"Filosofi yang terkandung merupakan perwujudan upaya manusia untuk menjadikan hawa nafsu angkara murka buto di wujudkan gambaran kesatria yang menaiki sosok buto," tambahnya.
Ia juga menambahkan , kesenian ini memiliki beberapa kisah (cerita) dan gerakan tari yang berbeda-beda, sehingga hal ini menjadi sebuah pementasan yang unik.
Keunikan seni ini meliputi inti cerita, (sinopsis cerita) kostum penari, dan iringan gamelan yang berbeda dengan kesenian jaranan secara umum.
Kesenian Jaranan Buto sendiri adalah akulturasi kesenian jaranan Sendrewi, Pegon dengan budaya lokal Banyuwangi.
Menpar Arief Yahya yang asli Banyuwangi itu mengapresiasi kinerja Bupati Azwar Anas yang sangat konsisten dan fokus pada festival dan kegiatan pariwisata itu.
"Banyuwangi adalah contoh kabupaten yang serius membangun sektor pariwisata dan sukses. Kita tiada hari tanpa bicara pariwisata di Banyuwangi," jelas Arief Yahya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/jaranan-buto_20170221_083142.jpg)