Eksklusif Warta Kota
Penjahit Jalanan, Cukup Buat Besarin Anak Sampai Nikah
Puluhan tukang permak jalanan di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur hingga kini masih menunjukkan eksistensi
Penulis: Feryanto Hadi | Editor: Dian Anditya Mutiara
WARTA KOTA, JATINEGARA - Puluhan tukang permak jalanan di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur hingga kini masih menunjukkan eksistensi.
Mereka membuka usaha di kolong jalan layang.
Sebagian lagi memilih menggelar usaha di Jalan Bekasi Barat atau depan gedung bersejarah Ex Kodim.
Saman (60), merupakan salah satu tukang permak senior di kawasan itu. Memulai usaha sejak 1975, ia banyak bercerita mengenai perjalanan, baik suka maupun duka, para tukang permak di sana.
"Dulu, awalnya hanya lima orang, termasuk saya. Paling awal ada namanya Pak Usin asal Tanjung Priuk. Saya sendiri belajar permak dari beliau," kata Saman ditemui di lokasi, Minggu (4/12/2016).
Beberapa tahun kemudian, jumlahnya pun semakin banyak dan tersebar.
Tukang permak berasal dari berbagai daerah seperti Padang, Cirebon, Tasikmalaya, Tegal, Bogor, Indramayu dan beberapa daerah lain.
Para pekerja informal itu memulai bisnis dengan modal kecil, dengan membeli mesin jahit bekas ke tukang loak.
Beberapa merek mesin jahit yang paling banyak digunakan, Butterfly dan Standard.
"Karena modal yang pas-pasan, kami pada beli alat jahit bekas atau rusak lalu diperbaiki. Bagi kami nggak masalah pakai bekas, yang penting merknya bagus dan memang berkualitas," kata Saman.
Setidaknya, saat itu ada tiga lokasi yang dijadikan tempat berdagang.
Pertama, di trotoar sekitar area luar stasiun KA Jatinegara, di bawah fly over dan sebagian membuka usaha di taman depan Gedung Bank BHS Bank.
Mereka membuka usaha sejak jam 09.00 sampai 21.00.
Murah dan cepat
Semakin banyak orang yang membuka jasa permak di kawasan itu seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/20161204-penjahit-jalanan_20161204_193826.jpg)