Melongok Geliat Pusat Perdagangan Emas, Cikini Gold Center
Perdagangan emas ini mengutamakan kepuasan dan kepercayaan pelanggan adalah yang paling penting.
WARTA KOTA, MENTENG -- Cikini Gold Center, salah satu tempat penjualan emas yang sebelumnya digadang-gadangkan sebagai pasar emas terbesar di Indonesia ini nampak lesu dan sepi pembeli.
Gedung yang sebelumnya merupakan sebuah pasar dan mendapat pemugaran pada tahun 2011 ini memiliki sekitar 10 lantai, sedang untuk penjual emas sebanyak 4 lantai dimulai dari lantai dasar.
Penjualan yang melesu dapat dilihat dari sepinya pembeli yang hilir mudik didalam gedung CGC yang berlokasi di Jalan Pegangsaan Barat No.6-12, RT 16/RW 5, Menteng, Jakarta Pusat ini.
Dari puluhan toko yang saat itu sudah membuka lapak dagangnya, hanya beberapa toko yang terlihat disambangi pembeli.
Bahkan, dilantai 3 dan 4 dapat dilihat banyak toko yang dikabarkan sudah menutup tokonya karena beberapa alasan dan satu diantaranya karena daya beli emas yang menurun.
Daya beli emas yang dikatakan menurun oleh salah satu pedagang emas di CGC bukanlah tidak beralasan sebab menurutnya, sejak perekonomian tidak stabil akibat kenaikan dollar beberapa waktu lalu sangat berpengaruh pada penjualan emas, dan daya saing antar toko. Ialah Yudistira (45) pria yang memiliki toko emas dengan nama “Yudistira Jewelry” ini mengatakan, sepinya pembeli sudah dimulai sekitar 6 bulan lalu.
“Wah kalau sekarang sepi sekali mbak, bukan sepi aja tapi sepi sekali ini saya jujur loh, bisa dilihat kan dari gedung yang melompong,” ujarnya.
Selain toko milik Yudistira, toko-toko lain yang terletak di lantai dasar maupun lantai atas terlihat sangat lengang tanpa kesibukan yang berarti, beberapa diantaranya dihampiri pembeli untuk melihat-lihat dan melakukan tawar menawar, tapi sebagiannya lagi hanya pemilik toko yang menyibukkan diri merapihkan ulang emas-emas dari dalam etalasenya.
Seperti yang terlihat dari toko milik wanita bernama Irene (40) ini, beberapa pembeli Nampak mampir dan berlalu.
"Kalau sepi, sudah cukup lama sih ya, tapi mulai sepi banget, ya 3 bulanan terakhir lah, gatau sih karena apa, mungkin memang lagi ekonomi di sini naik turun, pelanggan tetap yang hitungannya kolektor juga lagi jarang sekali beli,” katanya.
Disampaikan oleh kedua pemilik toko ini juga, meski daya beli emas sedang merosot namun emas merupakan barang investasi sehingga akan kembali mencapai titik dimana pembeli kembali mencari emas dengan kadar yang tinggi.
“Emas kan buat investasi, mungkin kalau belinya sekarang 5-6 tahun lagi kan bisa jadi investasi bagus. Makanya meskipun sekarang lagi lesu tapi nanti pasti ramai lagi, jadi gaperlu tutup tokolah karena meski kadang seminggu gaada pembeli tapi sebulan pasti ada aja,” ucap Yudistira.
Pria kelahiran Surabaya ini mengaku sudah menetap lama di Jakarta, serta begitu juga dengan usaha emasnya.
Sebelumnya, Yudistira memiliki toko emas di seberang CGC dekat dengan pintu utama stasiun Cikini, namun sejak 2012 saat gedung CGC mulai dioperasikan, Yudistira mengangkut semua dagangannya ke toko barunya di lt 2 gedung ini.
Pria ini sudah berjualan emas cukup lama, meski tokonya di CGC baru berusia 4 tahun namun pria keturunan Tionghoa ini sudah terbilang cukup senior dalam bidang usaha ini. Saat ditanya mengenai persaingan antar toko di CGC ini, Yudistira mengaku semua persaingan di tempat ini melibatkan mutu, model, kwalitas, harga serta service dari penjual.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/emas_20161130_165746.jpg)




