Senin, 13 April 2026

Reportase Eksklusif

Bermodalkan 200 Ribu, Penjual Kardus Bekas Bertahan Hingga 40 Tahun.

Dulu belinya dari grobak loak bawa kardus, saya beli, ada juga orang nawarin kardus bekas," katanya.

Joko Supriyanto
Eko (57) pedagang kardus 

WARTA KOTA, TANAHABANG - Siapa sangka dengan bermodalkan Rp 200.000 bisa menekuni usaha berjualan kardus bekas hingga 40 tahun lebih.

Usaha berdagang kardus bekas memang terlihat tidak begitu mewah dibandingkan usaha dagang lainnya. Namun dengan berjualan kardus bekas, Eko (57) salah satu pedagang kardus bekas bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga menyekolahkan anak-anaknya.

Pria paruh baya yang saat ini berjualan kardus bekas di Jalan Wahid Hasyim ini tampak tak menunjukan kelelahanya mengais rejeki dalam berjualan kardus bekas, padahal ia sudah hampir 40 tahun menekuni usaha ini.

Saat ditemuin pria berkaca mata ini nampak santai disebuah kursi plastik sambil menunggu pembeli yang datang kelapaknya.

Eko (57) pedagang kardus, mengatakan saat ini kondisi penjualan kardus tidak menentu, ia hanya mengandalkan pelangan-pelangannya yang sudah bekerja sama dengannya sejak dulu. "Untuk penjualan sebenarnya tidak menentu, jika tidak ada pesanan bisa menjual lima sampai sepuluh kerdus kadang lebih, tapi pernah juga tidak mendapatkan sama sekali," katanya kepada Warta Kota, Jumat (18/11).

Eko menceritakan sedikit, awal ia bekerja sebagai penjual kardus bekas, ia mengatakan bahwa dulu hanya bermodalkan 200 ribu, waktu itu ia hanya membeli kardus bekas dari beberapa orang, lalu ia jual kembali. "Dulu belinya dari grobak loak bawa kardus, saya beli, ada juga orang nawarin kardus bekas," katanya.

Dengan ketekunan dan kesabaran proses berjualannya pun kian naik, hingga disaat itu ada orang pabrik kardus yang mengajak ia bekerja sama. "Waktu itu ada orang pabrik datang ke saya, akhirnya kami bekerja sama, jadi saya tidak lagi beli kardus bekas dari pedagang lain, tapi saya beli kardus langsung dari pabrik," katanya.

Pria yang saat ini tinggal di kawasan Tanah Abang, Kebon Kacang ini sudah memiliki gudang sendiri untuk menyimpan kardus-kardus yang ia beli dari pabrik.

Eko yang saat ini berjualan ditemani Fatimah (50) istrinya sebelumnya, istrinya berjualan gado-gado sebelum memutuskan untuk menemani sang suami berjualan.

"Dulu saya sempat berjualan gado-gado tapi sudah 10 tahun yang lalu, terus berenti, karena udah tua mas, kalo jualan gado-gado kalo tidak habis bisa basi, mending ikut jualan kardus bekas, tidak perlu ribet sana sini," kata Fatimah.

Menurutnya segala sesuatu sudah diatur, jadi walaupun berjualan kardus bekas yang untungnya kecil, tapi masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pantauan Warta Kota dilokasi, sepanjang Jalan Wahid Hasyim mengarah Pasar Tanah Abang Blok A berjejer lapak-lapak pedagang penjual kardus bekas.

Para pedagang ini hanya mengunakan terpal yang dikaitakan dibeberapa pohon maupun tiang listrik sebagai penyangga. Kardus tersebut ditumpuk rapi di dalam tenda yang mereka bangun mengunakan terpal.

Puluhan tahun berjualan kardus bekas ternyata mereka memiliki suka duka sendiri, seperti disaat hujan, kardus-kardus terkadang terkena air, hingga penertipan Satpol PP. "Kami tidak punya pekerjaan lain selain ini, kami juga sudah tua jadi ya mau usaha lain saya rasa sudah bukan waktunya lagi, jadi hanya mengandalkan jualan kardus bekas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Walaupun usia yang sudah rentan, mereka tetap berusaha untuk berjualan kardus bekas. "Walau kami sudah tua ya, terkadang saya sendiri itu merasa kasihan kepada anak muda, masih sehat tapi mengemis, padahal ia masih bisa mencari kerja, saya juga pernah didatengin orang masih muda, ia minta duit, saya kasih, tapi malah mintanya seratus ribu, katanya buat makan, tapi ya saya tidak bisa kasih segitu, jualan kardus bekas saja untungnya dikit," katanya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved