Sabtu, 25 April 2026

Eksklusif Warta Kota

Masa Keemasan Kompor Cawang Mulai Runtuh

Penjualan oven dan kompor Cawang bisa cukup ramai hanya saat menjelang bulan Ramadhan atau Idul Adha.

WARTA KOTA, KRAMATJATI -- Sejak tahun 1990-an, jalan Dewi Sartika, Cawang, lebih dikenal sebagai sentra penjualan kompor atau lebih akrab disapa Cawang kompor.

Saat itu, julukan daerah tersebut begitu lekat karena penjualan kompor minyak di kawasan tersebut sedang mendulang kejayaan.

Namun, diawal tahun 2008 penggunaan kompor minyak mulai ditinggalkan oleh masyarakat khususnya daerah Jakarta dan sekitarnya, hal ini karena imbauan dari pemerintah yang saat itu mulai melarang penggunaan kompor minyak dan beralih pada kompor ramah lingkungan atau kompor gas.

Sejak saat itu, menurut Pria yang akrab disapa pak haji ini penjualan kompor cawang bisa dibilang jatuh ke jurang.

Baca: Ajang AFF 2016 akan Jadi Penentuan Nasib Alfred Riedl

Saat ditemui di lapak dagangnya pada Selasa (15/10), pria dibangunan yang terlihat penuh dengan berbagai jenis peralatan dapur ini tidak terlihat begitu sibuk, dia menuturkan kisahnya sebagai penjual kompor cawang sejak tahun 1980.

Menurutnya, sejak tahun pertama orang tuanya membuka usaha disini, belum banyak pedagang kompor cawang yang ada, sekiranya hanya ada satu atau dua pedagang yang juga memproduksi ditempat kompor cawang tersebut, sejak penjualan meningkat di tahun 1990-an sampai kemudian banyak yang memulai usaha serupa di kawasan tersebut.

"Kalau saya melanjutkan usaha orang tua sih, tapi sudah bantu disini dari 1980-an memang, waktu itu belum banyak yang buka tapi pas 1990-an mulai banyak sih, dan waktu itu jaya sekali, kita produksi di sini langsung kompornya dan punya banyak karyawan produksi," katanya.

Sejak kompor Cawang ditinggalkan penggunanya, kawasan ini sempat sepi dan tidak sedikit juga pedagang yang memilih gulung tikar karena tidak seimbangnya antara pemasukan dengan biaya yang harus dikeluarkan, menurut pria paruh baya ini saat itu banyak yang bahkan memilih menjual lapaknya dan beralih profesi.

Baca: APBD Perubahan Belum Kunjung Sah, Ribuan Pesapon di Kota Bekasi Belum Dapat Honor

Meski begitu, Pria yang memiliki sendiri lapaknya yang berukuran 6x6 meter ini mengaku tidak berniat beralih profesi meski 8 tahun silam penjualan sempat jatuh terpuruk.

Kejatuhan kompor Cawang rupanya tidak membuat semua pedagang menyerah, sebagian besar bersama-sama memikirkan inovasi terbaru agar tidak lama terpuruk.

Kemudian, menurut pria ini, seluruhnya mulai berinovasi dengan menjual oven, penjualan pun semakin beragam mulai dari oven kompor, oven gas, berbagai jenis panci, penggorengan sampai langseng.

Pria asal Cirebon ini juga menuturkan sedikit mengenai omzet yang didapatnya saat ini, meski baginya rezeki sudah diatur sebagaimana setiap orang berusaha, namun pria ini tetap mengakui kalau beberapa tahun ini penjualan menurun terus.

Bapak yang sudah cukup umur ini menyampaikan bahkan kadang dalam satu hari tidak mendapatkan pemasukan, sebagian orang hanya melihat-lihat saja tanpa membeli.

"Biasanya, sehari bisa dapat Rp 1-2 juta, tapi mulai 2014 kemarin, ya susah buat dapet barang segitu aja, kadang pulang gaada yang beli sama sekali juga pernah," ungkapnya.

Baca: Gelar Perkara Dugaan Penistaan Agama Diumumkan, Besok

Selain Pria paruh baya pemilik toko dengan nama 'serbaguna' ini, ada juga Rian (35) yang kini juga menjual berbagai jenis oven dan panci, menurut pria asal Citeureup ini penjualan kompor cawang beberapa tahun silam, memang bisa dibilang sangat sukses, pasalnya sebelum membuka usahanya sendiri pria ini juga membuka usaha produksi di Citeureup dan mengirimkan hasil produksinya ke pasar kompor cawang.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved