Kamis, 14 Mei 2026

Bom Samarinda

Selamat Jalan Intan Olivia

Intan Olivia (2) yang menjadi korban ledakan bom di depan Gereja Oikumene, Minggu (13/11/2016)

Tayang:
istimewa
Salah seorang anak korban ledakan bom di gereja di Samarinda. 

WARTA KOTA, SAMARINDA - Intan Olivia (2) yang menjadi korban ledakan bom di depan Gereja Oikumene, Minggu (13/11/2016) menghembuskan nafas terakhir di RSUD Abdul Wahab Syahranie (AWS) Kota Samarinda.

Baca: Bocah Korban Ledakan Bom di Samarinda Akhirnya Meninggal Dunia

Balita Intan yang mengalami luka bakar 70 persen meninggal dunia, Senin (14/11/2016).

Berpulangnya Intan Olivia, salah satu bocah korban bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, memantik duka.

Baca: Intel Pantau Tempat Ibadah

Duka mendalam dialami pasangan Anggiat Banjar Nahor dan Diana Susanti Sinaga.

20161114 ledakan, samarinda
Intan Olivia (2) jadi korban ledakan di depan gereja di Samarinda

Saat ini, jenazah balita Intan tengah disemayamkan di rumah duka di Jalan Jati 3 Gang Harapan Baru, Samarinda Seberang, Kota Samarinda.

Tak hanya menaungi publik, awan mendung juga menyelimuti para pengguna dunia maya, terutama media sosial.

Di jagat media sosial Twitter, misalnya, usai kematian bocah berusia 3 tahun tersebut, tagar #RIPIntan menjadi trending topic.

Hingga berita ini disusun, tagar yang digalang para netizen tersebut menempati urutan ke-2 di media sosial berlambang burung biru itu.

Beragam komentar, umumnya belasungkawa, dari netizen memenuhi linimasa.

Salah satunya dari akun Twitter @fadjroel yang dikelola Komisaris Utama PT Adhi Karya (Persero) Tbk., Fadjroel Rachman.

"Intan Marbun (4 Tahun) MARTIR bagi Kebangsaan & Kebhinekaan Republik Indonesia ~ #SaveRI @PEDOMAN_id #RIPintanmarbun," kicau @fadjroel.

Tak hanya itu, mantan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga ikut mengucapkan belasungkawa.

"Kau nodai kotaku Samarinda dg kebiadabanmu.Kau rusak kerukunan warga kotaku dg kebencianmu.Kau renggut kesucian anak2ku dg terormu #RIPIntan," cuit Dahlan lewat akun Twitter@iskan_dahlan.

Berikut beberapa komentar lain dari para netizen yang dirangkum TRIBUNNEWS.com:

@yuespri90: #RIPIntan turut berduka se-dlm2nya..seseorang tlah " merenggut" masa2 indahmu..

@soennarto: Berawal dari rasis, dan brakir pada pertumpahan darah #RIPIntan

@nudibranchvenom: Selamat jalan. Tuhan selalu bersamamu. Bahagia dalam damai disisiNya. #RIPIntan

@sintialab: Darahpun kembali bercucuran dan nyawa yg menjadi korban. Dimanakah fikiran para pemeran ini? SYAITON selalu ada di otak pembunuh #RIPIntan

@aavriani: Sedih banget #RIPIntan semoga nak damai di surga. Dan buat keluarganya yg sabar dan ikhlas. Saya mengutuk pengeboman ini. Jahat dan biadab!!

@DesiyusmanM: Ingin kumaki kebiadaban itu. Air mata ini tak bis kutahan membayangkan penderitaanmu #RIPIntan

@Har2904: Apa yg kalian Banggakan dr ngeBOM tmpat Ibadah, trlebih yg mnjd Korban Balita yg tdk BERDOSA #RIPIntan

@bonyoik: Entah pengen marah ato pengen nangis liat foto Intan Olivia.... semoga pencipta langit dan bumi ini beri keadilan. #RIPIntan.

Mantan napi 

Aparat kepolisian mengantongi identitas pelaku pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir RT 003 Nomor 32, Minggu (13/11/2016) sekitar pukul 10.00 WITA.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Div Humas Mabes Polri Brigjen Agus Rianto mengatakan, pelaku atas nama Joh alias Jo Bin Muhammad Aceng Kurnia (32).

"Pelaku pernah menjalani hukuman pidana sejak tanggal 4 Mei 2011," ujar Agus Rianto kepada wartawan Minggu (13/11/2016).

Hukuman pidana berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Barat nomor: 2195 / pidsus/2012/PNJKT.BAR tanggal 29 Februari 2012, dengan hukuman tiga tahun enam bulan kurungan.

JO dinyatakan bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi Idul Fitri tanggal 28 juli 2014.

"Saat ini pelaku sudah diamankan di Polresta Samarinda," kata Agus Rianto.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pelaku merupakan mantan napi bom Puspitek Serpong, kelompok Pepy Vernando. Setelah bebas dari penjara, JO bergabung dengan kelompok JAD Kalimantan Timur

Menyusul bibi

Duka menyelimuti keluarga besar Pungaran Banjarnahor, kakek Intan yang tinggal di Jalan Ringroad, Gang Guntur, Medan Sunggal, Kota Medan, Senin (14/11/2016).

Tamu-tamu berdatangan menyampaikan ucapan belasungkawa. Rumah ini ditinggali Agustini Banjarnahor, bibi Intan.

Sementara Pungaran memilih terbang ke Samarinda untuk melayat cucunya, Intan. 

Agustini meneteskan air mata melihat foto Intan lewat layar ponsel. Perempuan berkulit putih ini terakhir bertemu Intan tiga pekan lalu.

20161115 pemakaman intan, bom samarinda
nggiat Banjarnahor (33) dan Diana Susanti Br Sinaga (32) tak kuasa menahan tangis melihat jenazah anaknya, Intan Olivia Banjarnahor (2), di balik peti kayu. Kerabat berdatangan ke rumah keduanya di RT 27 No. 70, Gang Jati 3, Harapan Baru, Samarinda Seberang, Kalimantan Timur, Senin (14/11/2016). TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HARDI PRASETYO

Intan dibawa orangtuanya melayat ke rumah bibinya, Dewi Sartika boru Banjarnahor (34).

Dewi adalah saudara perempuan Anggiat Manumpak Banjarnahor, ayah Intan. Intan menyapa Dewi dengan sebutan namboru, atau bou.

"Ketika Intan datang kemarin kondisinya sehat, hanya badannya hangat karena kangen dengan tantenya (adik ibunya). Begitu di sini, dia (Intan) melihat mediang kakak saya (Dewi). Tapi dia takut, enggak berani. Saat mau dikubur Intan merengek ingin lihat bounya. Ketika jenazah mau dibawa ke dalam mobil, Intan bilang 'dadah Bou. Tenang di surga,'" cerita Agustini kepada Tribun Medan.

Setelah menghadiri pemakaman Dewi di Simalingkar pada 25 Oktober lalu, Intan bersama keluarga besarnya ke Aek Kenopan, Labuhan Batu Utara.

Mereka melayat ke rumah opung Intan yang juga meninggal karena sakit.

"Sebulan lalu, kakak saya (Dewi, korban begal, red) meninggal sekitar pukul 20.30 WIB pada Senin (24/10/2016). Hanya berselang beberapa menit, orangtua saya meninggal dunia di kampung karena sakit. Dan sekarang pada hari Senin juga keponakan saya meninggal dunia. Tuhan berat kali cobaan ini, kami kena musibah terus," ratap Agustini.

"Saya bilang Tuhan enggak adil, kenapa buat cobaan bertubi-tubi? Cuma di bilang kakak tadi, sabar dek, Tuhan buat cobaan enggak di batas kemampuan umatnya. Tapi kenapa harus kena keluarga Banjarnahor? Tuhan ampuni kami. Keluarga di sana, Abang harus tabah menghadapi ini," ujar dia.

Dia berharap pelaku bom di Gereja Oikumene mendapat hukuman yang berat. Apalagi, perbuatannya telah menewaskan keponakannya yang masih balita.

Kejadian malam yang beruntun ini membuat Agustini sangat sedih.

Dalam sebulan ia kehilangan tiga anggota keluarga, yakni ibunya, kakak kandungnya Dewi dan Intan, keponakannya.

(Tribun Kaltim/Tribunnews/Tribun Medan)

Sumber: TribunWow.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved