Kamis, 23 April 2026

Koran Warta Kota

Mahaguru Dimas Kanjeng Buta Huruf, Supaya Sakti Diganti Nama

Berjubah hitam dan membawa tasbih, Mujang (51) dan enam orang sesama 'mahaguru' Dimas Kanjeng ditunjukkan kepada wartawan.

Editor: Suprapto
Tribunnews.com
7 Maha Guru Dimas Kanjeng 

WARTA KOTA, SURABAYA-- Berjubah hitam dan membawa tasbih, Mujang (51) dan enam orang sesama 'mahaguru' di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi berbaris di depan gedung Ditreskrimum Polda Jawa Timur, Senin (7/11).

Baca: Maha Guru Dimas Kanjeng, Abah Gimbal Masih Misterius

Bapak empat anak itu mengaku tidak tahu-menahu alasan dia dibawa ke Mapolda Jatim.

Mujang dan enam 'mahaguru' lainnya dibawa ke Mapolda Jatim untuk diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan penipuan oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi.

Mujang dkk diduga berperan sebagai mahaguru palsu Dimas Kanjeng.

Mujang sendiri mengaku tidak terlalu kenal Dimas Kanjeng.

Dia mengaku hanya tahu setelah diberi pekerjaan dan imbalan atas pekerjaan tersebut.

"Gimana saya tahu, orang membaca saja saya tidak bisa," kata warga Kepa Duri, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, ini.

Pria yang berprofesi sebagai kuli bangunan itu juga tidak mengerti arti julukan yang diberikan kepadanya, yakni Abah Nogososro.

Dia mengaku, panggilan itu diberikan kepadanya beberapa waktu lalu di padepokan.

Ketujuh orang ini diberi nama julukan khusus dengan nama depan Abah. Sadeli, misalnya, dijuluki sebagai "Abah Entong" oleh Dimas Kanjeng. Ganti nama supaya lebih 'sakti' atau berwibawa dalam merekrut pengikut.

Marno Sumarno diganti namanya menjadi Abah Holil. Lalu, Abdul Karim diberi nama Abah Sulaiman Agung, Atjep sebagai Abah Kalijogo, Biea Sutarno sebagai Abah Sukarno, dan Ratim sebagai Abah Abdul Rohman.

Mereka ini diminta berperan bak seorang ulama. Mereka diberi pakaian serba putih, sorban, jubah, dan yang paling penting berjenggot.

Mujang mengaku baru tiga kali mengikuti acara di padepokan di Probolinggo.

Di sana, dia hanya diperintah untuk duduk sebentar di panggung utama acara bersama mahaguru lainnya yang sama-sama berasal dari Jakarta.

"Tugas saya cuma duduk dan memutar tasbih, setelah itu ya sudah," ungkapnya.

Sumber: WartaKota
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved